Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Sawerigading dan We Tenriabeng

3 menit baca

Pembuatan kapal pinisi; para pembuat perahu di Sulawesi Selatan banyak mengaitkan tradisi ini dengan kapal Sawerigading. Gambar: Muchtamir · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di awal La Galigo, salah satu karya sastra terpanjang di dunia, lahirlah sepasang anak kembar di Luwu dari keluarga keturunan dewa: seorang putra bernama Sawerigading dan seorang putri bernama We Tenriabeng. Keduanya dipisahkan sejak kecil dan dibesarkan terpisah. Para orang tua tahu, kalau anak kembar itu tumbuh bersama, akan datang bencana.

Sawerigading menjadi pelaut dan pendekar yang gagah. Ia sudah singgah ke banyak negeri, tetapi tak seorang pun pernah memberitahunya bahwa ia punya saudari kembar. Maka ketika suatu hari ia melihat We Tenriabeng, ia terpesona. Ia jatuh cinta seketika, tanpa tahu siapa perempuan itu.

Ketika kebenaran itu terbuka, ia tidak mau menerimanya. Ia berkeras hendak menikahi saudarinya, walaupun adat melarang dan seluruh keluarga cemas. Luwu terancam oleh keinginan satu orang. Langit dan bumi, kata naskah, ikut terguncang oleh perkara itu.

We Tenriabeng menemui kembarannya. Ia seorang bissu, perantara antara manusia dan dunia dewata, dan ia berbicara dengan ketenangan yang tak dimiliki saudaranya.

Ia berkata bahwa di negeri seberang, yang dalam naskah disebut Cina, ada seorang putri bernama We Cudai yang wajahnya sangat mirip dengannya. Perempuan itulah jodoh Sawerigading. Pergilah, begitu sarannya, dan jangan tinggal di sini untuk menghancurkan semuanya.

Ia juga menunjukkan sebatang pohon raksasa, Welenreng, yang berdiri sebagai pohon keramat. Dari kayunya Sawerigading harus membuat kapal. Pohon itu ditebang, dan dalam beberapa penuturan robohnya mengguncang gunung dan memicu banjir, seakan bumi sendiri ikut menanggung perpisahan itu. Kayunya menjadi kapal besar yang akan membawa sang pangeran menyeberangi lautan.

Sebelum berlayar, Sawerigading bersumpah tidak akan pernah menginjak tanah Luwu lagi. Ia berangkat dengan hati yang berat, meninggalkan saudari kembarnya, kampung halamannya, dan semua yang dikenalnya.

Perjalanan itu panjang dan penuh pertempuran di laut. Akhirnya ia sampai di negeri We Cudai. Benar kata saudarinya: wajah sang putri seperti pantulan wajah We Tenriabeng. Setelah melalui berbagai rintangan, keduanya menikah dan dikaruniai anak, di antaranya La Galigo, yang namanya menjadi judul seluruh epos ini.

Berabad-abad kemudian, para pembuat perahu di pesisir selatan Sulawesi masih menyebut nama Sawerigading. Banyak yang mengaitkan tradisi kapal besar mereka dengan kisahnya. We Tenriabeng sendiri tetap dikenang sebagai perempuan yang menyelamatkan negerinya dengan kata-kata, tanpa sebilah senjata pun.

💖 Pesan Moral

  • Tidak semua keinginan boleh dituruti. Cinta yang kuat sekalipun harus tunduk pada batas yang menjaga keluarga dan masyarakat.
  • Penasihat yang baik memberi jalan keluar. We Tenriabeng tidak hanya melarang. Ia menunjukkan arah lain untuk melangkah.
  • Merelakan sering kali menuntut kepergian jauh. Kadang kita baru bisa melepaskan setelah benar-benar menjauh.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari bagian kisah Sawerigading dalam epos Bugis La Galigo, Sulawesi Selatan. Epos ini sangat panjang dan rinciannya berbeda antarnaskah; ini salah satu versi yang diringkas.