Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tukang Sol Sepatu dan Sang Bankir

3 menit baca

Adegan dari piring Montereau tahun 1810: tukang sepatu dan bankir dengan kantong uang di antara mereka. Gambar: Montereau Pottery · Public domain · sumber

Di sebuah kota di Prancis, tukang sol sepatu bernama Grégoire bernyanyi dari pagi sampai malam. Bengkelnya kecil dan pakaiannya penuh tambalan, tetapi suaranya memenuhi seluruh jalan. Melihatnya bekerja saja orang ikut gembira. Tak ada filsuf mana pun, kata orang, yang tampak lebih puas dengan hidupnya.

Tepat di sebelahnya tinggal seorang bankir kaya raya. Rumahnya besar dan berlimpah emas. Namun ia jarang bernyanyi dan lebih jarang lagi tidur. Pikirannya tak pernah berhenti menghitung. Baru menjelang fajar matanya bisa terpejam, dan tepat pada saat itu terdengar suara Grégoire dari balik dinding, melantunkan lagu pagi.

Si bankir sering mengeluh, mengapa Tuhan tidak mengatur agar tidur bisa dibeli di pasar seperti makanan dan minuman.

Suatu hari ia memanggil tukang sepatu itu ke rumahnya.

“Nah, Tuan Grégoire, berapa penghasilan Anda setahun?”

Grégoire tertawa. “Setahun? Astaga, Tuan, saya tidak pernah menghitung begitu. Saya tidak menumpuk hari yang satu di atas hari yang lain. Asal sampai ke akhir tahun, sudah cukup. Setiap hari membawa rotinya sendiri.”

“Baiklah, kalau sehari?”

“Kadang lebih, kadang kurang. Sayangnya, dalam setahun banyak hari libur saat kami tidak boleh bekerja. Pastor selalu saja mengumumkan hari orang suci yang baru.”

Si bankir tertawa mendengar kepolosannya. Ia lalu mengambil sebuah kantong.

“Hari ini saya akan mendudukkan Anda di singgasana. Ambillah seratus ekus ini. Simpan baik-baik untuk keperluan Anda.”

Mata Grégoire terbelalak. Rasanya semua uang yang pernah dihasilkan bumi selama seratus tahun kini berada di tangannya. Ia berlari pulang, dan malam itu juga ia menguburkan uang itu di ruang bawah tanahnya. Bersama uang itu terkubur pula kegembiraannya.

Esok paginya tak ada nyanyian. Grégoire kehilangan suaranya pada saat ia mendapat benda yang menjadi sumber segala kesusahan. Tidur meninggalkan rumahnya, dan penggantinya adalah rasa cemas, curiga, dan ketakutan yang tak beralasan. Sepanjang siang ia mengawasi pintu. Pada malam hari, kalau ada kucing berbunyi di atap, ia terlonjak dari tempat tidur. Kucing itu pasti sedang mengambil uangnya!

Di rumah sebelah, si bankir tidur nyenyak sampai siang. Tak ada lagi yang membangunkannya.

Akhirnya, dengan mata cekung dan wajah pucat, Grégoire berlari ke rumah orang yang tak lagi ia bangunkan itu. Ia meletakkan kantong uang di atas meja.

“Kembalikan lagu-lagu saya dan tidur saya, Tuan,” katanya. “Dan ambillah kembali seratus ekus Anda.”

💖 Pesan Moral

  • Harta punya biaya perawatan. Setiap hal yang kita miliki juga memiliki sebagian dari ketenangan kita.
  • Cukup adalah kekayaan yang tak perlu dijaga. Grégoire merasa cukup sebelum uang itu datang, dan tak ada yang bisa mencuri rasa cukup itu.
  • Kenali harga dari tidur nyenyak. Banyak orang baru menghargainya setelah kehilangan.
  • Hadiah bisa mengikat pemberinya dan penerimanya. Ada kalanya mengembalikan sesuatu adalah cara terbaik mendapatkan diri kita lagi.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Jean de La Fontaine “Le Savetier et le Financier” (Fables, Buku VIII), yang bersumber dari kisah dalam Surat-Surat Horatius. Ekus (écu) adalah mata uang Prancis pada masa itu.