Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Baucis dan Filemon

3 menit baca

Filemon dan Baucis menjamu dua tamu, lukisan Rembrandt, 1658. Gambar: Rembrandt · Public domain · sumber

Di perbukitan Frigia, sebatang pohon ek dan sebatang pohon linden tumbuh berdampingan di dalam pagar rendah. Tak jauh dari situ terbentang rawa yang kini dihuni burung-burung air. Dahulu rawa itu perkampungan yang ramai.

Jupiter dan Mercurius turun ke sana dengan menyamar sebagai manusia biasa. Mercurius melepas sayapnya. Mereka mengetuk seribu pintu untuk meminta tempat beristirahat, dan seribu pintu terkunci bagi mereka.

Satu rumah menerima mereka. Rumah itu kecil, beratap ilalang dan batang-batang rawa. Di situ Baucis dan Filemon, sepasang kakek-nenek, menikah semasa muda dan menua bersama. Mereka miskin, tetapi tidak malu mengakuinya dan tidak mengeluhkannya. Di rumah itu tak ada tuan atau pelayan, sebab seisi rumah hanya mereka berdua.

Tamu-tamu itu membungkuk melewati pintu yang rendah. Filemon mengeluarkan bangku, dan Baucis menghamparkan kain kasar di atasnya. Ia mengorek abu dari perapian, menghidupkan bara kemarin, dan meniupnya dengan napas tuanya. Filemon mengambil sayur dari kebun, lalu dengan galah menurunkan sepotong daging asap yang lama disimpan di atas para-para hitam dan memotong sedikit darinya. Sambil menunggu, mereka mengajak tamunya mengobrol agar tak terasa lama.

Baucis memasang meja, tetapi satu kakinya lebih pendek. Ia mengganjalnya dengan pecahan tembikar, lalu mengelap permukaannya dengan daun mint. Hidangannya sederhana: buah zaitun, ceri yang diawetkan, lobak, keju, dan telur panggang, semuanya di piring tanah liat. Sesudah itu ada kacang, kurma, ara, apel, anggur, dan sarang madu. Lebih menyenangkan dari semua itu adalah wajah ramah tuan rumahnya, tanpa sedikit pun rasa berat hati.

Tiba-tiba mereka melihat sesuatu yang membuat bulu kuduk berdiri. Setiap kali kendi anggur kosong, kendi itu terisi sendiri. Baucis dan Filemon gemetar, mengangkat tangan, dan memohon maaf atas hidangan yang begitu sederhana.

Mereka punya seekor angsa, penjaga pondok kecil itu, dan satu-satunya yang tersisa untuk disembelih bagi tamu agung. Keduanya mengejarnya dengan kaki tua. Angsa itu lebih gesit, membuat mereka kelelahan, lalu berlindung di dekat kedua tamu.

“Jangan disembelih,” kata mereka. “Kami dewa. Negeri yang tidak berbelas kasih ini akan menerima hukumannya, tetapi kalian akan selamat. Tinggalkan rumah dan ikutlah kami mendaki gunung.”

Bersandar pada tongkat, kedua orang tua itu mendaki lereng yang panjang. Sebentar lagi puncak, mereka menoleh. Seluruh negeri sudah tenggelam menjadi rawa. Hanya atap rumah mereka yang tersisa. Mereka menangisi tetangga yang tak pernah berbuat baik kepada mereka. Lalu di depan mata mereka, gubuk kecil itu berubah. Tiang kayu menjadi pilar, ilalang menguning menjadi atap emas, dan lantai tertutup marmer. Rumah mereka menjadi kuil.

“Katakan, wahai orang tua yang baik, dan istri yang layak mendampingimu, apa keinginan kalian?”

Filemon berbisik sebentar dengan Baucis. “Kami ingin menjadi pelayan kuil ini. Dan karena kami hidup rukun selama ini, biarlah kami meninggal pada saat yang sama, agar aku tak pernah melihat makam istriku, dan ia tak perlu menguburkanku.”

Permintaan itu dikabulkan. Mereka menjaga kuil itu sepanjang sisa hidup. Suatu hari, ketika sudah sangat tua, mereka berdiri di tangga kuil sambil mengenang masa lalu. Baucis melihat Filemon berdaun, dan Filemon melihat Baucis berdaun. Saat kulit kayu naik menutupi wajah mereka, keduanya sempat berucap bersama: “Selamat tinggal, teman hidupku.”

Penduduk di sana masih menunjukkan dua pohon yang tumbuh berdampingan itu. Orang-orang menggantungkan untaian bunga pada dahan-dahannya.

💖 Pesan Moral

  • Keramahan tidak diukur dari isi lemari. Sebuah meja yang diganjal pecahan tembikar bisa menjadi meja paling mulia di seluruh negeri.
  • Perlakukan orang asing seolah ia tamu agung. Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang mengetuk pintu.
  • Cinta yang panjang tidak meminta banyak. Saat boleh meminta apa saja, pasangan ini hanya ingin tetap bersama.
  • Kepedihan atas nasib orang lain adalah tanda hati yang baik. Mereka tetap menangisi tetangga yang menutup pintu.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Metamorfosis karya Ovidius, Buku VIII.