Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Tombak dan Perisai (自相矛盾)

2 menit baca

Tombak-galah perunggu dari zaman Negara-Negara Berperang, masa ketika Han Feizi menulis kisah si pedagang tombak dan perisai. Gambar: Gary Todd from Xinzheng, China · CC0 · sumber

Di sebuah pasar yang ramai di negeri Chu, ada seorang pedagang senjata yang sangat pandai bicara. Di lapaknya terpajang dua jenis barang dagangan: perisai dan tombak.

Pagi itu, orang-orang mulai berkerumun. Si pedagang mengangkat sebuah perisai tinggi-tinggi agar semua orang bisa melihatnya.

“Saudara-saudara sekalian! Lihatlah perisai ini! Inilah perisai terkuat di seluruh dunia. Bahannya pilihan, buatannya sempurna. Tidak ada satu senjata pun di kolong langit yang bisa menembusnya!”

Orang-orang mengangguk-angguk kagum. Beberapa mulai bertanya harganya.

Belum puas, si pedagang meletakkan perisai itu dan mengangkat sebatang tombak yang ujungnya berkilat tajam.

“Dan lihat tombak ini! Inilah tombak paling tajam di seluruh dunia. Ujungnya ditempa berkali-kali oleh pandai besi terbaik. Tidak ada satu benda pun di kolong langit yang tidak bisa ditembusnya!”

Kerumunan kembali riuh. Si pedagang tersenyum lebar, merasa dagangannya akan laris hari itu.

Tiba-tiba, dari tengah kerumunan, seorang lelaki mengangkat tangan dan bertanya dengan suara keras.

“Tuan, kalau begitu, bagaimana jadinya kalau tombak Tuan dipakai untuk menusuk perisai Tuan sendiri?”

Suasana mendadak hening. Semua mata beralih ke si pedagang. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar. Kalau ia menjawab tombaknya bisa menembus perisai, berarti perisainya bukan yang terkuat. Kalau ia menjawab perisainya bisa menahan tombak, berarti tombaknya bukan yang paling tajam.

Wajahnya merah padam. Orang-orang mulai tertawa, lalu satu per satu meninggalkan lapaknya tanpa membeli apa pun.

Kisah ini dicatat oleh filsuf Han Feizi. Ia memakainya untuk menunjukkan bahwa dua klaim yang mutlak dan saling bertentangan tidak mungkin sama-sama benar. Dari kisah inilah lahir kata 矛盾 (máodùn), gabungan aksara “tombak” (矛) dan “perisai” (盾), yang sampai sekarang dipakai dalam bahasa Tionghoa untuk arti “kontradiksi” atau “pertentangan”. Peribahasa lengkapnya adalah 自相矛盾 (zì xiāng máodùn), “tombak dan perisainya sendiri saling bertentangan”.

Bahasa Jepang dan Korea pun meminjam kata yang sama dengan arti yang sama. Sebuah kisah pasar yang sederhana telah menjadi salah satu kata paling penting dalam cara berpikir di Asia Timur.

💖 Pesan Moral

  • Jaga agar perkataan kita konsisten. Ucapan yang saling bertentangan akan menghancurkan kepercayaan orang.
  • Hati-hati dengan klaim berlebihan. Kata “paling” dan “tidak ada yang bisa” mudah sekali dibantah.
  • Kejujuran lebih meyakinkan daripada pujian berlebihan terhadap diri atau barang sendiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kitab Han Feizi, bab “Nan Yi” (Kritik Pertama), karya filsuf Han Fei (abad ke-3 SM), asal-usul kata 矛盾 dan peribahasa 自相矛盾.