Pencuri yang Menjadi Murid
Kuil di malam hari, latar ketika seorang pencuri mendatangi guru Shichiri. Gambar: Tomomarusan · CC BY 2.5 · sumber
Suatu malam, guru Zen Shichiri Kojun sedang melantunkan sutra di ruangannya ketika seorang pencuri masuk dengan pedang terhunus.
“Serahkan uangmu, atau kubunuh kau!” ancam pencuri itu.
Shichiri bahkan tidak menoleh. “Jangan ganggu aku,” katanya tenang. “Uangnya ada di laci itu.” Lalu ia melanjutkan lantunannya.
Pencuri itu kebingungan, tetapi segera membuka laci dan mulai mengambil uang di dalamnya. Sesaat kemudian Shichiri berhenti membaca dan berkata:
“Jangan ambil semuanya. Besok aku harus membayar pajak. Sisakan sedikit.”
Si pencuri menyisakan sebagian uang dan bersiap pergi. Saat ia sampai di pintu, Shichiri berkata lagi:
“Kalau orang menerima pemberian, sepantasnya ia mengucapkan terima kasih.”
Pencuri itu tertegun. Dengan canggung ia mengucapkan terima kasih, lalu kabur ke dalam gelap.
Beberapa hari kemudian pencuri itu tertangkap. Ia mengaku telah melakukan banyak pencurian, termasuk di tempat Shichiri. Ketika sang guru dipanggil sebagai saksi, ia berkata kepada para petugas:
“Orang ini bukan pencuri, setidaknya bagi saya. Saya memberinya uang itu, dan ia sudah mengucapkan terima kasih kepada saya.”
Pencuri itu tetap harus menjalani hukuman atas kejahatan-kejahatannya yang lain. Namun kata-kata Shichiri tertanam di hatinya. Selama di penjara ia merenungkan seorang lelaki tua yang ia ancam dengan pedang, tetapi tidak membalas dengan kebencian.
Setelah masa hukumannya selesai, ia tidak kembali ke jalanan. Ia pergi ke kuil Shichiri, berlutut di depannya, dan memohon untuk diterima sebagai murid. Menurut kisah ini, ia kemudian benar-benar berubah dan menjalani hidup yang baru.
Shichiri tidak membenarkan pencurian, dan ia tidak menghalangi hukum berjalan. Yang ia lakukan adalah menolak memandang orang itu hanya sebagai penjahat. Ia memperlakukannya sebagai manusia yang masih bisa mengucapkan terima kasih, dan karena itu masih bisa berubah. Kadang satu perlakuan yang memanusiakan lebih kuat mengubah seseorang daripada seribu kecaman.
💖 Pesan Moral
- Ketenangan menghadapi ancaman bisa meredakan keadaan yang paling berbahaya.
- Melihat sisi manusia dalam diri orang yang bersalah membuka pintu bagi perubahan.
- Belas kasih tidak sama dengan membenarkan kesalahan. Belas kasih memberi kesempatan untuk memperbaikinya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Zen tentang guru Shichiri Kōjun (Jepang, abad ke-19), yang dikenal luas dengan judul “The Thief Who Became a Disciple” dalam kumpulan 101 Zen Stories susunan Nyogen Senzaki dan Paul Reps.