Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Keledai yang Hoca Hitung

3 menit baca

Patung Nasreddin di atas keledainya di kompleks Lyab-i Hauz, Bukhara. Tokoh ini dikenal jauh melampaui Turki. Gambar: Faqscl · CC BY-SA 3.0 · sumber

Nasreddin Hoca baru saja mendapat rezeki besar. Ia membeli delapan ekor keledai di pasar dan merasa seperti orang terkaya di seluruh Akşehir. Dengan hati riang ia memilih satu yang paling tenang, naik ke punggungnya, lalu menggiring tujuh keledai lain pulang ke rumah.

Di tengah jalan ia teringat nasihat istrinya: kalau membawa barang berharga, periksa selalu. Maka Hoca menoleh ke belakang dan mulai berhitung.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.”

Ia berhenti. Dahinya berkerut. Ia menghitung lagi, kali ini sambil menunjuk satu per satu.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.”

Tujuh! Padahal tadi delapan. Jantung Hoca berdebar. Seekor keledai hilang di jalan! Ia melompat turun dan berlari mencari ke semak-semak, memeriksa balik pohon, dan menanyai petani yang lewat. Tak ada yang melihat keledai tersesat. Dengan lesu ia kembali ke rombongannya dan, sekadar memastikan, menghitung sekali lagi.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan!”

Delapan! Hoca lega luar biasa. Alhamdulillah, keledai itu sudah kembali sendiri. Betapa setianya hewan ini, pikirnya. Ia naik lagi ke punggung keledainya dan melanjutkan perjalanan sambil bersenandung.

Tak lama kemudian, rasa cemas kembali mengusik. Ia menoleh dan berhitung.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.”

Astaga, hilang lagi! Keledai yang satu ini rupanya punya kebiasaan buruk. Hoca turun, mencari ke sana kemari, menengok ke sungai kecil, lalu kembali dengan napas tersengal. Ia menghitung.

“Enam, tujuh, delapan!”

Ia memandangi rombongan itu dengan curiga. Ia naik lagi. Tujuh. Ia turun. Delapan.

Setelah beberapa kali mencoba, seorang tetangga yang sedang berjalan ke arah yang sama menghampirinya, sudah agak lama memperhatikan dari jauh.

“Hoca, ada apa? Mengapa kamu naik turun terus seperti orang menimba air?”

“Ada yang tidak beres dengan keledai-keledaiku,” bisik Hoca. “Kalau aku di atas, jumlahnya tujuh. Kalau aku turun, jumlahnya delapan. Ini pasti ada sihirnya.”

Tetangga itu menahan tawa sampai pipinya bergetar. Ia menunjuk ke bawah, ke hewan yang sedang berdiri tepat di bawah pelana.

“Hoca, yang kamu duduki itu apa?”

Hoca menunduk dan memandang keledainya dalam-dalam. Keledai itu memandangnya kembali. Sejenak tak ada yang berkata apa-apa.

Namun Hoca tidak pernah kehabisan akal. Ia turun dengan penuh wibawa, menepuk leher keledai itu, lalu mulai berjalan kaki di depan rombongannya.

“Hoca, mengapa sekarang kamu berjalan? Kan sudah jelas jumlahnya?”

“Lebih baik berjalan kaki dengan delapan keledai,” jawab Hoca dengan tenang, “daripada naik keledai tetapi kehilangan seekor.”

💖 Pesan Moral

  • Yang paling dekat paling mudah terlupakan. Kita sering menghitung apa yang tampak, dan lupa pada yang sedang menopang kita.
  • Kalau hitungan Anda selalu berubah, periksa dulu di mana Anda berdiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Nasreddin Hoca, Turki. Lelucon ini beredar di banyak negeri dengan jumlah keledai yang berbeda-beda.