Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Meng Jiang Nu Menangis di Tembok Besar

3 menit baca

Tembok Besar bertemu laut di Shanhaiguan, daerah tempat kuil Meng Jiang Nu berdiri. Gambar: Prince Roy · CC BY 2.0 · sumber

Pada masa Kaisar Qin Shi Huang, para lelaki diangkut dari kampung-kampung di seluruh negeri untuk membangun tembok raksasa di perbatasan utara. Banyak yang berangkat dan tak pernah terdengar lagi. Seorang pemuda terpelajar bernama Fan Xiliang berusaha menghindari kerja paksa itu dan bersembunyi di sebuah taman milik keluarga Meng.

Di taman itulah ia bertemu Meng Jiang Nu, putri keluarga tersebut. Keluarga Meng menerimanya dengan baik, dan kedua anak muda itu menikah. Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Tak lama setelah pernikahan, petugas datang dan menyeret Fan Xiliang pergi ke utara.

Bulan berganti, dan tak ada kabar. Musim gugur tiba, angin mulai tajam. Meng Jiang Nu terus memikirkan suaminya yang berada di perbatasan dengan pakaian tipis. Ia memintal dan menjahit baju musim dingin yang tebal, lalu memutuskan mengantarkannya sendiri.

Ia berjalan ribuan li. Kakinya lecet, ia melewati sungai dan gunung, tidur di kuil dan di pinggir jalan, sambil memeluk bungkusan baju itu. Yang ia pikirkan hanya satu: suaminya akan kedinginan.

Akhirnya ia sampai di tembok, deretan bata dan debu yang seakan tak berujung, dengan ribuan pekerja kurus memikul batu. Ia berjalan dari satu kelompok ke kelompok lain, menyebut nama suaminya. Sampai seorang pekerja tua menunduk dan mengatakan yang sebenarnya. Fan Xiliang telah lama meninggal karena kelelahan, dan seperti banyak pekerja lain, jasadnya ditimbun di dalam tembok.

Meng Jiang Nu duduk di kaki tembok itu sambil mendekap baju yang tidak akan pernah dipakai. Lalu ia menangis. Ia menangis siang dan malam, dengan kesedihan yang tak bisa ditahan siapa pun.

Burung-burung berhenti berkicau. Langit menggelap. Dan tembok itu mulai retak. Dengan gemuruh yang terdengar berpuluh-puluh li jauhnya, sebagian Tembok Besar runtuh, memperlihatkan tulang-belulang para pekerja yang terkubur di dalamnya.

Ia mencari di antara tulang-tulang itu. Menurut cerita, ia meneteskan darah dari jarinya, dan darah itu meresap hanya pada tulang suaminya. Dengan cara itu ia menemukannya.

Kaisar datang untuk menghukum perempuan yang meruntuhkan temboknya. Namun melihat kecantikan Meng Jiang Nu, ia malah ingin mengambilnya sebagai selir. Meng Jiang Nu mengajukan syarat: suaminya harus dimakamkan dengan upacara yang layak, dan Kaisar harus berkabung di hadapan makamnya. Kaisar mengabulkannya. Setelah suaminya dimakamkan, Meng Jiang Nu berjalan ke arah laut dan tidak pernah kembali.

Di Shanhaiguan, tempat Tembok Besar bertemu laut, sampai sekarang berdiri kuil yang dibangun untuk mengenangnya.

💖 Pesan Moral

  • Di balik bangunan megah ada orang-orang yang dilupakan. Kisah ini mengingatkan bahwa kejayaan penguasa sering dibayar oleh rakyat kecil.
  • Kesetiaan bisa menempuh jarak yang tak masuk akal. Sebuah baju hangat membuat seorang perempuan berjalan ribuan li.
  • Duka orang kecil punya kekuatan moral. Rakyat menceritakan tangisnya selama ratusan tahun, sedangkan nama para pekerja lain tak tercatat.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Tiongkok tentang Meng Jiang Nu. Benih kisahnya dapat ditelusuri sampai catatan kuno tentang istri Qi Liang dari negeri Qi; nama suami dan bagian akhirnya berbeda-beda antarversi.