Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Anak Kecil dan Toples Kacang

2 menit baca

Kacang-kacang seperti inilah yang digenggam terlalu banyak oleh anak dalam cerita. Gambar: Fir0002 at English Wikipedia · CC BY-SA 3.0 · sumber

Di atas meja dapur ada sebuah toples tinggi berleher sempit, penuh kacang hazel yang manis dan gurih. Seorang anak laki-laki sudah lama memandanginya. Ibunya sedang di luar. Rumah sepi. Keadaan terasa sangat mendukung.

Ia memanjat kursi, menarik toples itu mendekat, dan memasukkan tangannya ke dalam. Jemarinya yang kecil langsung tenggelam di antara butir-butir kacang yang licin. Betapa banyaknya! Ia menjepit dan meraup, mengepalkan tangan sebesar yang ia bisa, sampai tak ada lagi ruang di antara jari-jarinya. Tak sebutir pun boleh tertinggal kalau masih muat.

Dengan puas ia menarik tangannya.

Tangannya tidak keluar.

Ia menarik lagi, sedikit lebih kuat. Kepalan tangannya tertahan tepat di leher toples. Tangan itu tadi masuk dengan mudah, jadi mengapa sekarang tidak bisa keluar? Ia menarik ke kiri, lalu ke kanan. Ia memutar pergelangan tangannya. Toples itu ikut terangkat dari meja, menggantung di tangannya seperti sebuah gelang raksasa yang berat.

Ia mencoba mengguncangnya. Kacang-kacang berderak di dalam, tetapi kepalannya tetap tersangkut. Kulit di punggung tangannya mulai perih.

Bibirnya bergetar. Ia sudah sedekat ini. Semua kacang itu sudah ada di genggamannya, dan ia tidak mau melepaskannya, tidak sebutir pun. Namun tangannya juga tidak mau keluar. Akhirnya matanya berkaca-kaca, dan tangisnya pecah keras-keras.

Seseorang yang kebetulan lewat di depan pintu mendengar suara itu dan masuk. Ia melihat anak itu berdiri di atas kursi, wajahnya basah, satu tangannya tenggelam dalam toples. Ia mengerti semuanya dalam sekali pandang, dan ia harus menahan senyum.

“Nak,” katanya lembut, “coba jangan serakah. Lepaskan separuhnya. Ambil setengah saja, dan tanganmu akan keluar dengan mudah.”

Anak itu memandangnya dengan curiga, lalu memandang toples. Melepaskan separuh terasa seperti kehilangan yang besar. Tetapi tangannya sudah sakit, dan ia tidak punya rencana lain.

Pelan-pelan ia membuka genggamannya. Beberapa butir jatuh kembali. Kepalannya mengecil. Dan benar saja, tangan itu meluncur keluar, dengan kacang secukupnya di telapak tangan.

Ia duduk di kursi, mengusap air matanya, dan mulai mengunyah. Kacang setengah genggam ternyata enak juga.

💖 Pesan Moral

  • Yang terlalu digenggam sering tidak bisa dibawa pergi. Setengah yang didapat lebih berharga daripada semua yang tersangkut.
  • Kerjakan sedikit demi sedikit. Toples itu tidak akan habis dalam satu raupan, tetapi bisa habis dalam banyak raupan kecil.
  • Melepaskan bukan selalu berarti rugi. Kadang itulah satu-satunya jalan untuk keluar dari kesulitan.
  • Bila tangan tersangkut di toples, coba periksa dulu berapa banyak isi kepalan itu sebelum menyalahkan toplesnya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop “The Boy and the Filberts”.