Berapa Jumlah Gagak di Kota?
Raja Birbal dalam lukisan Mughal. Gambar: Pelukis Mughal tak dikenal · Public domain · sumber
Suatu siang yang panas, Kaisar Akbar berjalan-jalan di taman istana bersama Birbal. Di atas pepohonan, burung-burung gagak berkoak-koak tanpa henti. Sang Kaisar mendongak dan mendapat sebuah ide jahil.
“Birbal,” katanya, “kau kan orang paling pintar di istanaku. Coba katakan, ada berapa ekor burung gagak di seluruh kota ini?”
Para pengawal yang mendengarnya saling melirik sambil menahan senyum. Pertanyaan semacam itu jelas tidak mungkin dijawab. Siapa yang bisa menghitung burung yang terbang ke sana kemari?
Beberapa menteri yang ikut berjalan di belakang diam-diam merasa senang. Sudah lama mereka iri kepada Birbal yang selalu menjadi kesayangan Kaisar. “Kali ini dia pasti tidak bisa menjawab,” bisik salah seorang dari mereka. “Kalau dia mengaku tidak tahu, habislah reputasinya sebagai orang paling cerdas di istana.”
Birbal tidak tampak bingung sama sekali. Ia mengelus jenggotnya, memejamkan mata sejenak seolah sedang menghitung dengan serius, lalu menjawab dengan yakin.
“Paduka, di kota ini ada sembilan puluh lima ribu empat ratus enam puluh tiga ekor burung gagak.”
Akbar mengangkat alis. “Angka yang sangat tepat! Bagaimana kalau aku menyuruh orang menghitungnya, lalu ternyata jumlahnya lebih sedikit?”
“Itu artinya sebagian gagak sedang pergi mengunjungi sanak saudaranya di kota lain, Paduka,” jawab Birbal tanpa ragu.
“Lalu bagaimana kalau ternyata jumlahnya lebih banyak?”
Birbal tersenyum lebar. “Itu artinya ada gagak-gagak dari kota lain yang sedang bertamu ke rumah saudara mereka di sini, Paduka.”
Akbar tertawa terbahak-bahak sampai harus berpegangan pada tiang taman. Para pengawal pun tak bisa lagi menahan tawa, sementara para menteri yang iri tadi hanya bisa saling pandang dengan muka masam. “Birbal, Birbal,” kata sang Kaisar sambil menyeka matanya, “kau selalu punya jawaban untuk segala hal.”
Tentu saja Birbal tidak benar-benar tahu jumlah gagak di kota itu. Tetapi ia tahu bahwa pertanyaan Kaisar memang dimaksudkan untuk menggoda, bukan untuk dijawab dengan data. Ia membalasnya dengan cara yang sama: ringan, cerdik, dan tetap sopan.
Kadang-kadang, menghadapi pertanyaan yang mustahil, yang dibutuhkan bukan jawaban yang sempurna, melainkan ketenangan dan sedikit rasa humor.
💖 Pesan Moral
- Ketenangan dan humor dapat menyelamatkan kita dari situasi yang menyudutkan.
- Kenali maksud sebuah pertanyaan: ada yang perlu dijawab dengan data, ada yang cukup dijawab dengan senyum.
- Kecerdasan tidak harus kaku; kecerdikan yang jenaka sering kali lebih mudah diterima.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot rakyat India tentang Kaisar Akbar dan Birbal. Kisah-kisah ini adalah tradisi lisan yang berkembang setelah masa hidup kedua tokoh, bukan catatan sejarah.