Abu Nawas Memindahkan Istana
Miniatur Persia dari naskah Nigaristan (1573–74), menggambarkan suasana istana. Gambar: Aga Khan Museum · Public domain · sumber
Baginda Raja Harun Ar-Rasyid sedang gemar bermimpi besar. Suatu pagi, saat memandangi pegunungan dari balkon, ia mendapat ide yang menurutnya luar biasa. Bagaimana kalau istana ini dipindahkan ke puncak gunung? Dari sana ia bisa melihat seluruh negerinya dalam sekali pandang.
Para menteri saling bertukar pandang. Tak seorang pun berani berkata bahwa keinginan itu mustahil. Akhirnya, seperti biasa, nama yang muncul adalah Abu Nawas.
“Pindahkan istanaku ke atas gunung,” titah Baginda ketika Abu Nawas menghadap. “Aku ingin memandang seluruh kerajaanku dari sana. Bila engkau tidak sanggup, hukuman menantimu.”
Abu Nawas menerima titah itu tanpa membantah. Ia hanya memohon waktu untuk berpikir. Hari demi hari ia tampak mondar-mandir, kadang memandangi tembok istana, kadang menatap gunung di kejauhan, sampai para menteri mulai bertaruh tentang hukuman apa yang akan ia terima.
Beberapa hari kemudian ia menghadap lagi.
“Ampun, Baginda. Hamba sanggup melaksanakan tugas ini, tetapi ada dua syarat. Pertama, istana harus dikosongkan. Kedua, pada hari raya kurban nanti, seluruh rakyat harus dikumpulkan di lapangan.”
Baginda menyetujui syarat itu dengan penuh semangat. Pengumuman disebarkan ke seluruh negeri. Peti, permadani, dan perabot diangkut keluar dari istana. Orang-orang datang dari desa-desa, sebab siapa yang mau melewatkan pemandangan istana berjalan ke atas gunung?
Pada hari yang ditentukan, lapangan penuh sesak. Baginda duduk di tempat yang tinggi bersama para menteri. Abu Nawas maju ke depan, membungkuk, lalu berjalan ke depan gerbang istana yang sudah kosong. Ia menyingsingkan lengan baju, menghadap bangunan megah itu, dan berdiri tegak.
Rakyat menahan napas. Abu Nawas tetap berdiri. Matahari makin tinggi. Ia tidak bergerak. Orang-orang mulai berbisik. Baginda duduk gelisah, lalu bangkit dan menghampirinya.
“Abu Nawas! Mengapa engkau diam saja? Kapan istanaku engkau pindahkan?”
“Hamba sudah siap sejak tadi, Baginda,” jawabnya dengan penuh hormat. “Hamba menunggu seluruh rakyat mengangkat istana ini dan meletakkannya di atas pundak hamba. Begitu istana sudah ada di pundak hamba, akan hamba bawa ke gunung.”
Baginda terdiam dengan mulut sedikit terbuka. Ia memandang istananya, lalu memandang tubuh Abu Nawas yang kurus, lalu ribuan rakyatnya. Tawa mulai terdengar dari barisan depan, menjalar ke belakang, dan akhirnya sampai ke Baginda sendiri.
Sang raja pun menepuk bahu Abu Nawas dan membatalkan keinginannya. Istana tetap di tempatnya, dan perabotnya harus diangkut kembali.
💖 Pesan Moral
- Keinginan yang mustahil lebih baik dijawab dengan akal daripada dengan bantahan. Abu Nawas tidak menolak titah. Ia membuat Baginda melihat sendiri bahwa keinginan itu tidak masuk akal.
- Sebelum memberi perintah, bayangkan siapa yang harus memikulnya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Abu Nawas yang populer di Nusantara, salah satu versi. Tokoh ini diilhami penyair Baghdad Abu Nuwas, tetapi anekdot-anekdotnya adalah cerita rakyat.