Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Sumur Milik Birbal

3 menit baca

Sumur irigasi di India, ukiran abad ke-19. Sumur dan airnya memang sulit dipisahkan. Gambar: Anonymous Unknown author · Public domain · sumber

Seorang petani sedang kesulitan. Sawahnya kering, dan satu-satunya sumber air yang dekat adalah sumur milik tetangganya. Setelah berhari-hari menimbang-nimbang, ia mengeluarkan seluruh tabungannya dan membeli sumur itu. Harganya tidak murah, tetapi ia lega. Mulai besok, sawahnya akan basah.

Keesokan paginya ia datang membawa ember. Si tetangga sudah berdiri di bibir sumur dengan tangan bersedekap.

“Mau ke mana dengan ember itu?”

“Mengambil air, tentu saja. Ini sumurku.”

Si tetangga tersenyum lebar. “Sumurnya memang sudah kujual kepadamu. Airnya tidak. Waktu kita berjabat tangan, tak ada sepatah kata pun tentang air. Kalau mau airnya, bayar lagi.”

Petani itu ternganga. “Apa gunanya sumur tanpa air?”

“Itu urusanmu. Sumur itu boleh kaupandangi sepuasnya.”

Ia memohon, marah, lalu memohon lagi. Si tetangga tak bergerak sedikit pun. Dua hari kemudian, dengan sawah yang makin retak, petani itu berjalan ke istana dan mengadukan persoalannya di hadapan Kaisar Akbar.

Akbar mendengarkan, mengerutkan kening, lalu memanggil si tetangga. Orang itu datang dengan wajah tenang, dan membawa surat jual beli yang memang hanya menyebut sumur.

Sang kaisar menoleh ke samping. “Birbal, bagaimana menurutmu?”

Birbal mengelus janggut, membaca surat itu, dan mengangguk-angguk. “Tuan ini benar, Paduka,” katanya. “Yang dijual adalah sumurnya. Airnya tidak ikut dijual.”

Si tetangga tersenyum puas. Petani itu nyaris menangis.

“Kalau begitu,” lanjut Birbal sambil menggulung surat itu, “semuanya jelas. Sumur itu milik si petani, dan air itu milik Tuan. Maka saya rasa Tuan harus segera menyelesaikannya. Air Tuan sedang menumpang di sumur orang lain, dan sudah beberapa hari tidak membayar sewa.”

Senyum si tetangga berhenti di tengah jalan.

“Sewa?”

“Tentu saja. Tuan punya dua pilihan. Bayarlah sewa kepada si petani setiap bulan karena telah menaruh air di sumurnya, atau keluarkan semua air itu hari ini juga. Tentu tidak sulit bagi orang yang begitu teliti.”

Para pejabat di balairung mulai menahan tawa. Si tetangga membayangkan dirinya menimba air sumur itu sampai habis, tanpa henti, dan membayangkan mata air di dasarnya yang terus mengisinya kembali. Keringat dingin muncul di dahinya.

Ia berlutut. “Ampun, Paduka. Saya hanya bercanda. Sumur dan airnya memang satu.”

Akbar tertawa sampai bahunya berguncang. Ia memerintahkan agar sumur dan seluruh airnya menjadi hak si petani sepenuhnya.

Sore itu air mengalir ke sawah yang kering. Konon si tetangga lama tak berani lewat di dekat sumur itu.

💖 Pesan Moral

  • Celah kata-kata tidak membuat kecurangan menjadi benar. Orang yang cerdik memelintir perjanjian bisa dikalahkan dengan alat yang sama.
  • Tulislah perjanjian dengan jelas. Kalau membeli sumur, sebutkan airnya.
  • Melawan orang licik tak harus dengan berteriak. Birbal menyetujui lawannya dulu, lalu membiarkan logika orang itu menjerat dirinya sendiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot rakyat Akbar dan Birbal, salah satu versi.