Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Aladin dan Lampu Ajaib

3 menit baca

Dua sosok dan asap dupa dalam ilustrasi Thomas Mackenzie untuk kisah Aladin. Gambar: Thomas Mackenzie · Public domain · sumber

Aladin adalah anak seorang penjahit miskin yang tidak suka belajar apa pun. Setelah ayahnya meninggal, ibunya harus memintal benang untuk menghidupi mereka, sementara Aladin bermain di jalan. Suatu hari seorang lelaki asing mendekatinya. Ia mengaku sebagai paman Aladin, adik ayahnya yang lama merantau. Sebenarnya ia penyihir dari Afrika yang sedang mencari anak yang tepat.

“Paman” itu membelikan Aladin baju bagus dan mengajaknya berjalan ke luar kota, sampai ke sebuah lembah. Di sana ia menyalakan api, mengucapkan mantra, dan tanah terbelah. Tampak sebuah lempeng batu dengan cincin di tengahnya. Di bawahnya ada ruang-ruang berisi harta. Ia menyuruh Aladin turun, melarangnya menyentuh apa pun, dan memintanya mengambil sebuah lampu tua yang menyala di ujung ruangan. Sebagai perlindungan, ia meminjamkan sebuah cincin.

Aladin menemukan lampu itu. Dalam perjalanan kembali, ia memetik buah-buahan berkilau dari pepohonan di taman bawah tanah, yang disangkanya kaca berwarna. Ketika sampai di bawah pintu, si penyihir meminta lampu itu lebih dulu. Aladin meminta dibantu naik dulu. Penyihir itu naik darah, mengucapkan mantra, dan menutup gua itu. Aladin terkurung dalam gelap.

Dua hari ia terkubur. Tanpa sengaja ia menggosok cincin di jarinya, dan muncullah jin yang menawarkan bantuan. Aladin diantar pulang. Lampu itu ia bawa, dan ketika ibunya menggosoknya untuk dijual, keluarlah jin yang jauh lebih besar.

Anehnya, ibu dan anak itu tidak langsung menjadi rakus. Mereka meminta makanan, menjual piringnya sedikit demi sedikit, dan hidup sederhana selama bertahun-tahun. Aladin mulai bergaul dengan para pedagang dan belajar mengenal nilai barang, sampai ia tahu bahwa “kaca berwarna” di rumahnya adalah permata yang tak ada tandingannya di negeri itu.

Suatu hari ia melihat sekilas Putri Badrul Budur, putri sultan, dan jatuh hati. Ibunya, dengan gemetar, membawa permata itu ke istana untuk melamar. Setelah berbagai rintangan dari wazir yang tak rela, Aladin menikahi sang putri, dan dalam semalam jin lampu membangunkan sebuah istana.

Berita itu sampai ke Afrika. Penyihir tua itu tahu bahwa Aladin masih hidup dan lampunya berjaya. Ia datang menyamar sebagai pedagang lampu, berkeliling sambil berseru, “Lampu baru ditukar lampu lama!” Orang-orang menertawakannya. Seorang dayang di istana, yang tidak tahu apa-apa, menukarkan lampu tua milik Aladin. Dalam sekejap, istana dan sang putri terbang ke Afrika.

Sultan murka dan hampir menghukum mati Aladin. Aladin meminta waktu empat puluh hari. Tanpa lampu, ia ingat masih ada cincin itu. Jin cincin membawanya ke tempat sang putri. Bersama-sama, dengan kecerdasan sang putri yang memperdaya si penyihir, mereka merebut kembali lampu itu dan pulang.

Bertahun-tahun kemudian, ia menggantikan sultan dan memerintah dengan adil. Anak yang dulu tak mau belajar apa-apa itu, akhirnya, belajar juga.

💖 Pesan Moral

  • Tak semua “paman” yang membawa hadiah berniat baik. Tanyakan apa yang ia inginkan dari Anda.
  • Keberuntungan perlu dibarengi kebijaksanaan. Aladin menjadi layak memegang lampunya setelah ia belajar menghargai barang dan orang.
  • Kenali nilai barang lama. Lampu butut itu ditukar dengan lampu baru oleh orang yang tidak tahu apa yang sedang dilepaskannya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah yang dimasukkan Antoine Galland ke dalam Seribu Satu Malam pada 1710, berdasarkan penuturan Hanna Diyab dari Aleppo. Tidak ditemukan naskah Arab asli yang lebih tua.