Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Tiga Tukang Batu

2 menit baca

Pekerjaan yang sama, cara memandang yang berbeda. Gambar: Tidak diketahui · Public domain · sumber

Seorang pengembara berjalan melewati sebuah lokasi pembangunan yang luas. Debu beterbangan, palu berdentang di mana-mana, dan para pekerja sibuk mengangkut serta menyusun batu di bawah terik matahari.

Ia berhenti di dekat seorang tukang batu yang sedang bekerja dengan wajah cemberut. Keringat membasahi dahinya, dan setiap ayunan palunya terdengar seperti keluhan.

“Permisi, Pak. Apa yang sedang Bapak kerjakan?” tanya si pengembara.

Tukang batu itu menjawab ketus tanpa mengangkat kepala, “Tidak lihat? Saya sedang memecah batu. Dari pagi sampai sore, setiap hari, demi upah yang tidak seberapa. Punggung saya sakit, tangan saya lecet.”

Si pengembara berjalan lagi dan bertemu tukang batu kedua. Orang ini bekerja dengan lebih tenang, meskipun wajahnya datar saja.

“Apa yang sedang Bapak kerjakan?”

“Saya sedang mencari nafkah,” jawabnya. “Saya membangun tembok ini supaya bisa menghidupi istri dan anak-anak saya. Pekerjaannya berat, tapi lumayan.”

Si pengembara melanjutkan langkahnya, lalu tiba di dekat tukang batu ketiga. Orang ini bekerja sambil bersenandung kecil. Ia menyusun setiap batu dengan hati-hati, memperhatikan kerapiannya, lalu mundur selangkah untuk melihat hasilnya dengan puas.

“Apa yang sedang Bapak kerjakan?”

Tukang batu itu menegakkan badan, menyeka keringatnya, lalu menunjuk ke arah rangka bangunan yang menjulang. Matanya berbinar.

“Saya sedang membangun sebuah rumah ibadah yang megah, Pak. Suatu hari nanti, ribuan orang akan datang ke sini untuk berdoa, menenangkan hati, dan menemukan harapan. Mungkin saya tidak akan hidup cukup lama untuk melihatnya selesai, tetapi batu yang saya pasang hari ini akan menjadi bagian darinya.”

Si pengembara tertegun. Ketiga orang itu melakukan pekerjaan yang persis sama: memecah dan menyusun batu, di bawah matahari yang sama, dengan upah yang barangkali juga sama. Yang berbeda hanyalah cara mereka memandang pekerjaan itu.

Bagi yang pertama, pekerjaan adalah beban. Bagi yang kedua, pekerjaan adalah sarana mencari nafkah. Bagi yang ketiga, pekerjaan adalah panggilan untuk membangun sesuatu yang lebih besar dari dirinya.

Si pengembara pun melanjutkan perjalanannya sambil tersenyum, bertanya-tanya bagaimana ia sendiri akan menjawab pertanyaan yang sama.

💖 Pesan Moral

  • Makna sebuah pekerjaan ditentukan oleh cara kita memandangnya.
  • Lihatlah gambaran besarnya: pekerjaan sekecil apa pun bisa menjadi bagian dari sesuatu yang berarti.
  • Sikap mengubah pengalaman; beban yang sama terasa lebih ringan bila dikerjakan dengan tujuan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan populer “Tiga Tukang Batu” yang beredar dalam banyak versi; sering dikaitkan dengan pembangunan Katedral St. Paul di London, tetapi asal-usulnya tidak dapat dipastikan.