Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Anansi dan Kura-kura Makan Malam

3 menit baca

Kura-kura yang sabar: lelah dan lapar, tetapi tetap ingat tata krama. Gambar: Bernard DUPONT · CC BY-SA 2.0 · sumber

Suatu sore, setelah berjalan jauh di bawah terik matahari, Kura-kura tiba di rumah Anansi si laba-laba. Ia lelah dan sangat lapar. Kebetulan, dari dapur Anansi tercium aroma ubi panggang yang menggugah selera.

Menurut adat di negeri itu, tamu yang datang harus dipersilakan makan. Anansi sebenarnya tidak ingin berbagi, tetapi ia tidak bisa menolak secara terang-terangan. Maka dengan senyum yang dibuat-buat, ia berkata, “Selamat datang, Kura-kura. Silakan duduk dan makan bersamaku.”

Kura-kura mengulurkan tangannya ke piring. Anansi langsung menahan. “Eh, tunggu dulu! Lihat tanganmu, kotor sekali. Pergilah cuci tangan di sungai dulu.”

Kura-kura melihat tangannya. Memang berdebu karena perjalanan jauh. Ia pun berjalan perlahan ke sungai, mencuci tangannya, lalu berjalan kembali. Karena kura-kura berjalan sangat lambat, ketika ia tiba, sebagian besar ubi sudah dihabiskan Anansi.

Saat ia hendak mengambil makanan, Anansi berseru lagi, “Kura-kura! Tanganmu kotor lagi!” Ternyata, karena berjalan dengan keempat kakinya di jalan tanah, tangannya kembali berdebu. Ia pergi lagi ke sungai, kali ini berjalan di atas rumput agar tangannya tetap bersih. Tetapi saat ia kembali, piring itu sudah kosong. Anansi menghabiskan semuanya.

Kura-kura tidak marah. Ia hanya tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Anansi. Kapan-kapan, datanglah ke rumahku. Aku akan menjamumu makan malam.”

Beberapa hari kemudian, Anansi datang ke rumah Kura-kura yang terletak di dasar sungai. Anansi berenang ke permukaan, lalu mencoba menyelam. Tetapi tubuhnya yang ringan terus mengapung. Ia tidak bisa turun ke dasar sungai tempat meja makan Kura-kura penuh dengan hidangan lezat.

Anansi yang cerdik punya akal. Ia mengisi saku jasnya dengan batu-batu kerikil. Dengan pemberat itu, ia berhasil tenggelam ke dasar sungai dan duduk di depan meja makan. Ia segera mengulurkan tangan ke arah makanan.

Kura-kura berkata dengan sopan, “Maaf, Anansi. Di rumahku, kami tidak makan dengan memakai jas. Silakan lepaskan dulu jasmu.”

Anansi tidak bisa membantah. Bukankah ia sendiri yang mengajarkan pentingnya sopan santun di meja makan? Ia melepaskan jasnya. Seketika itu juga, tanpa pemberat batu, tubuhnya melayang ke atas dan muncul di permukaan sungai. Dari atas, ia hanya bisa melihat Kura-kura menikmati makan malamnya dengan tenang.

Anansi pulang dengan perut lapar. Hari itu, ia belajar bahwa orang yang curang kepada orang lain, suatu saat akan menerima perlakuan yang sama.

💖 Pesan Moral

  • Perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan.
  • Kecurangan yang dibungkus sopan santun tetaplah kecurangan, dan suatu saat akan berbalik.
  • Kesabaran dan ketenangan bisa menjadi cara terbaik untuk memberi pelajaran.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Afrika Barat (tradisi Ashanti, Ghana) tentang Anansi si laba-laba dan Kura-kura.