Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Negara
Pelita minyak perunggu dari Andalusia abad ke-10, Museum Albacete. Bentuknya lebih muda dari zaman Umar. Gambar: Enrique Íñiguez Rodríguez ( Qoan ) Credit information This work was created by Enrique Íñiguez ( Qoan ). You are free to use it for any purpose as long as you credit me properly (e.g. © Enrique Íñigue · CC BY-SA 4.0 · sumber
Umar bin Abdul Aziz lahir di tengah kemewahan keluarga Bani Umayyah. Sebelum menjadi khalifah, ia dikenal gemar berpakaian indah dan wangi. Ketika jabatan itu jatuh ke tangannya pada tahun 717, orang-orang terkejut melihat perubahan pada dirinya. Ia melepaskan kemewahan istana dan mengembalikan banyak harta ke kas negara. Ia hanya memerintah sekitar dua setengah tahun, dan umat Islam mengenangnya sampai hari ini.
Dari masa itulah datang sebuah riwayat kecil tentang lampu. Amr bin Muhajir, yang mengenalnya, menuturkan bahwa untuk urusan kaum Muslimin, Umar bekerja diterangi sebatang lilin. Bila urusan itu selesai, ia memadamkan lilin tersebut, lalu menyalakan pelita miliknya sendiri. Riwayat lain menyebut bahwa ia punya dua pelita: satu dari harta kas umat untuk menulis urusan rakyat, satu lagi miliknya untuk urusan pribadi.
Orang-orang kemudian mengisahkan hal itu dalam berbagai adegan. Dalam salah satu versinya yang sering diceritakan di Indonesia, suatu malam Umar sedang menyelesaikan pekerjaan di ruang kerjanya. Tumpukan surat ada di mejanya, dan lampu menyala di dekatnya. Putranya masuk karena ingin membicarakan sesuatu.
Umar mengangkat kepala dan bertanya apakah yang hendak dibicarakan itu urusan negara atau urusan keluarga.
Urusan keluarga, jawab anaknya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, sang khalifah mengulurkan tangan dan memadamkan lampu itu. Ruangan menjadi gelap. Anaknya tentu saja heran dan menanyakan alasannya.
Dari kegelapan, Umar menjelaskan. Lampu itu milik negara. Minyaknya dibeli dengan uang negara, yaitu uang rakyat. Yang akan mereka bicarakan adalah urusan keluarga, jadi tidak patut mereka menggunakan penerangan itu.
Lalu ia menyuruh orang mengambil lampu dari dalam rumah, lampu milik keluarga yang minyaknya dibeli dengan uang sendiri. Setelah lampu itu menyala, baru ia mempersilakan anaknya berbicara.
Jumlah minyak yang dihemat malam itu tentu sangat sedikit. Tidak akan ada seorang pun di seluruh wilayah yang membentang dari Spanyol sampai perbatasan India yang tahu, atau peduli, kalau sang khalifah membiarkan lampu itu menyala beberapa menit lagi. Namun Umar tampaknya tidak sedang menghitung minyak. Ia sedang menjaga sebuah garis, yang memisahkan apa yang menjadi miliknya dan apa yang hanya dititipkan kepadanya.
Orang yang telaten menjaga garis itu pada urusan setetes minyak tidak akan melanggarnya pada urusan sepeti emas. Itulah sebabnya kisah sekecil ini masih terus diceritakan, lebih dari seribu tiga ratus tahun kemudian, sementara nama banyak penguasa yang memiliki istana besar sudah terlupakan.
💖 Pesan Moral
- Integritas diuji pada hal-hal kecil yang tak dilihat orang. Korupsi besar hampir selalu dimulai dari setetes minyak.
- Pisahkan yang pribadi dari yang dititipkan. Pulpen kantor, mobil dinas, dan waktu kerja termasuk “lampu negara”.
- Anak belajar dari apa yang dilihatnya. Pelajaran paling berkesan sering diberikan tanpa ceramah panjang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari riwayat Amr bin Muhajir tentang Umar bin Abdul Aziz dan salah satu versi penuturan populernya. Adegan bersama sang putra berasal dari penuturan kemudian dan kesahihannya tidak pasti.