Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Tenali Raman dan Dua Cawan Sang Dewi

3 menit baca

Patung Tenali Ramakrishna di Tenali, Andhra Pradesh. Gambar: Muralikrishna m · CC BY 4.0 · sumber

Jauh sebelum namanya terkenal di istana Vijayanagara, Raman hanyalah seorang pemuda miskin dari desa Tenali. Ia pintar, lidahnya tajam, dan ia punya bakat membuat orang tertawa. Namun kepintaran tidak bisa dimakan, dan kantongnya selalu kosong.

Suatu hari seorang pertapa yang singgah di desanya mengajarkan sebuah mantra kepadanya. Kalau mantra itu diucapkan sebanyak yang ditentukan di hadapan Dewi Kali, kata sang pertapa, Dewi akan menampakkan diri.

Raman pergi ke kuil Dewi Kali di pinggir desa, pada malam yang gelap, dan duduk mengucapkan mantra itu berulang-ulang. Malam makin larut. Lalu kuil itu tiba-tiba dipenuhi cahaya. Di hadapannya berdiri Sang Dewi dalam wujud yang agung dan menggetarkan. Di kedua tangannya ada dua cawan: yang satu dari emas, berisi susu; yang lain bertatahkan intan, berisi dadih.

“Raman,” kata Sang Dewi, “aku berkenan atas ketekunanmu. Cawan emas ini berisi susu ilmu. Siapa yang meminumnya akan menjadi orang berpengetahuan. Cawan intan ini berisi dadih kekayaan. Siapa yang menyantapnya akan hidup makmur. Pilihlah satu.”

Raman memandang cawan yang satu, lalu cawan yang lain. Ilmu atau harta? Kalau ilmu saja, ia akan menjadi orang pintar yang kelaparan. Kalau harta saja, ia akan menjadi orang kaya yang tidak tahu cara menjaganya.

Ia menggaruk kepala dan bertanya dengan penuh hormat, “Ampun, Dewi. Bagaimana hamba bisa memilih tanpa tahu rasanya? Bolehkah hamba mencicipinya dulu?”

Sang Dewi mengulurkan kedua cawan itu.

Secepat kilat Raman menyambut keduanya dan menenggak habis isinya, susu dan dadih sekaligus.

Kuil itu sunyi. Mata Sang Dewi menatapnya tajam.

“Raman! Aku menyuruhmu memilih satu!”

Raman bersujud, tetapi lidahnya tetap bekerja. “Hamba mohon ampun, Ibu. Dadih ini rasanya asam sekali. Mengapa kekayaan itu masam?”

“Karena kekayaan tidak selalu diperoleh dengan jalan yang manis dan benar,” jawab Sang Dewi.

“Kalau begitu, apa gunanya ilmu tanpa harta, Ibu? Perut lapar tak bisa membaca. Dan apa gunanya harta tanpa ilmu? Harta itu akan habis dalam semalam, atau menjadikan pemiliknya orang bodoh yang sombong. Hamba hanya tak ingin menyia-nyiakan pemberian Ibu.”

Beberapa saat berlalu. Lalu raut wajah Sang Dewi melembut, dan sudut bibirnya tersenyum. Tak ada orang yang berani menjawab seperti itu di hadapannya.

“Engkau memang nakal,” sabdanya. “Baiklah. Engkau akan menjadi orang yang berilmu dan berkecukupan. Engkau akan tinggal di istana raja. Dan dengan kecerdikan itu, engkau akan membuat orang-orang tertawa.”

Cahaya itu menghilang. Raman tinggal sendirian di kuil yang gelap, dengan rasa asam yang masih tertinggal di lidahnya.

Bertahun-tahun kemudian, ia menjadi punggawa kesayangan Raja Krishnadevaraya, yang dikenal dengan julukan Vikatakavi, si penyair jenaka. Banyak orang di istana bertanya-tanya dari mana kecerdikannya berasal. Mungkin dari susu itu. Keberaniannya, barangkali, datang dari tempat lain.

💖 Pesan Moral

  • Pilihan “ini atau itu” kadang palsu. Ada kalanya jawaban terbaik adalah bertanya, mengapa tidak dua-duanya?
  • Ilmu dan bekal hidup saling membutuhkan. Yang satu menjaga yang lain supaya tidak sia-sia.
  • Harta punya rasa asam. Ingatlah pertanyaan tentang bagaimana kekayaan diperoleh, bahkan ketika kita sedang menikmatinya.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Tenali Raman di India selatan, salah satu versi. Kisah ini punya banyak varian: dalam sebagian versi, Tenali justru dikutuk menjadi pelawak karena meminum keduanya.