Pan Balang Tamak
Pemandangan desa adat di Bali, tempat cerita Pan Balang Tamak dituturkan. Gambar: Balou46 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di sebuah desa di Kerajaan Sunantara, tinggallah suami istri yang kaya raya. Sang suami bernama Pan Balang Tamak, dan istrinya Ni Tanu. Hartanya banyak, tetapi kikirnya juga luar biasa. Ia juga malas, suka membangkang pada aturan desa, dan lidahnya licin bukan main. Karena itu, para pemuka desa sangat kesal kepadanya. Berkali-kali mereka berkumpul untuk mencari cara agar ia bisa dijatuhi denda.
Pada suatu rapat, mereka mendapat akal. Warga akan diajak bergotong royong mencari kayu di hutan, dan pengumumannya dibuat khusus: semua harus berangkat saat ayam turun dari tempat tidurnya. Para pemuka desa tahu Pan Balang Tamak tidak memelihara ayam jago yang turun pagi-pagi. Kalau ia terlambat, dendalah ia.
Esok paginya, ketika ayam berkokok dan turun dari kandang, warga berangkat ke hutan. Pan Balang Tamak tetap duduk tenang di rumah. Ia hanya punya seekor ayam, dan ayam itu sedang mengeram. Baru lewat tengah hari ayamnya turun, dan baru saat itulah ia berangkat. Di tengah jalan ia berpapasan dengan warga yang sudah pulang sambil memikul kayu. Maka ia ikut pulang.
Besoknya ia dipanggil ke balai desa untuk didenda. Pan Balang Tamak mendengarkan semuanya dengan sabar, lalu berkata, “Saya tidak bersalah. Pengumumannya berbunyi berangkat saat ayam turun. Ayam saya cuma seekor dan sedang mengeram, dan ia baru turun setelah tengah hari. Saat itulah saya berangkat.”
Tak seorang pun bisa membantah. Denda batal.
Para pemuka desa tidak menyerah. Lain waktu, warga diminta menyumbang senggauk, olahan dari nasi kering. Mereka tahu Ni Tanu hanya menanak nasi secukupnya, dan tidak pernah ada sisa untuk dikeringkan. Kali ini ia pasti terjerat.
Esoknya Pan Balang Tamak tiba di balai desa sambil menggotong sebuah sanggah uug, tempat pemujaan keluarga yang sudah rusak. Semua orang melongo.
“Apa ini?”
“Lo, bukankah juru arah kemarin mengumumkan agar warga membawa sanggah uug?” jawabnya dengan wajah heran. “Suaranya memang agak pelo, tetapi itulah yang saya dengar.”
Sekali lagi, ia lolos.
Berikutnya warga diajak berburu ke hutan dengan anjing yang galak. Pan Balang Tamak datang hanya bersama anjing kecilnya yang kurus. Di tengah hutan ia sampai ke sebuah jurang dalam dan tidak berani menyeberang. Ia pun berteriak sekeras-kerasnya, “Babi bengkok! Ada babi bengkok!”
Semua pemburu berlarian dari segala arah, membawa tombak dan anjing. “Mana? Mana?”
“Ada pangkung tak berjembatan,” jawabnya sambil menunjuk jurang itu. Karena semua sudah telanjur berkumpul dan memang perlu lewat, warga pun bergotong royong membuat titian dari kayu dan bambu. Pan Balang Tamak menyeberang paling depan, tanpa memikul sebatang pun.
Begitulah, jebakan demi jebakan selalu lewat dari tangannya. Cerita tentang akalnya masih panjang dalam tuturan orang Bali, dan akhir kisahnya tidak sebahagia ini, sebab kelicikan yang terus-menerus akhirnya mengundang musuh yang tak bisa ditertawakan.
💖 Pesan Moral
- Bila aturan dibuat untuk menjebak satu orang, jangan heran kalau kata-katanya dipakai untuk melawan.
- Pintar berkelit bukan berarti disukai. Pan Balang Tamak selalu menang debat, tetapi ia kalah dalam hal yang lebih penting: tak ada tetangga yang senang kepadanya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari satua (dongeng) Bali tentang Pan Balang Tamak, salah satu versi; tiga episode dipilih dari rangkaian kisahnya yang panjang.