Abu Nawas dan Larangan Menunggang Keledai
Penunggang keledai di Kairo dalam kartu pos lama. Cara menunggang inilah yang dilarang bagi Abu Nawas. Gambar: Rijksmuseum · CC0 · sumber
Suatu pagi Baginda Raja terbangun dengan gelisah. Semalam ia bermimpi tentang Abu Nawas, dan mimpi itu terus mengganggu pikirannya. Ia pun memanggil seorang penasihat rohani untuk menafsirkannya.
Penasihat itu memejamkan mata lama sekali, lalu berkata dengan suara berat, “Baginda, mimpi itu pertanda buruk. Orang tersebut akan mendatangkan bencana bagi negeri ini. Ia harus diusir sebelum terlambat.”
Baginda sebenarnya menyukai kecerdikan Abu Nawas, tetapi ia lebih takut pada bencana. Abu Nawas pun dipanggil ke istana dan menerima kabar buruk itu: ia harus meninggalkan kampung halamannya. Ada satu syarat tambahan yang tidak boleh ia langgar.
“Engkau boleh pulang suatu hari nanti,” titah Baginda, “tetapi tidak dengan menunggang keledai. Bila melanggar, engkau akan dihukum.”
Abu Nawas menerima keputusan itu dengan sedih. Ia berkemas, berpamitan kepada istri dan tetangganya, lalu pergi naik keledainya. Orang-orang melepasnya dengan mata basah. Kampung terasa sepi. Tidak ada lagi orang yang membuat mereka tertawa di warung dan di pasar.
Waktu berlalu, dan tak ada bencana yang datang. Tak ada juga yang tahu ke mana Abu Nawas pergi, sampai pada suatu hari terdengar kabar yang membuat seisi kampung gempar. Abu Nawas pulang! Orang-orang keluar dari rumah dan berlari ke tepi jalan.
Dari jauh terlihat seekor keledai berjalan pelan ke arah kampung. Orang-orang bersorak gembira. Tetapi mereka juga cemas, sebab semua orang tahu tentang larangan itu.
Berita tersebut cepat sampai ke istana. Baginda tersenyum lebar. Kali ini ia yakin benar. Dengan pengawal lengkap ia keluar menyongsong keledai itu, sudah membayangkan hukuman yang tepat.
Keledai itu makin dekat. Pelana di punggungnya kosong. Tak ada siapa pun di atasnya.
Baginda mengerutkan dahi. Lalu terdengar suara yang akrab dari arah yang tak terduga.
“Hamba menghadap, Baginda!”
Baginda membungkuk. Di bawah perut keledai itu, Abu Nawas bergelantungan dengan kedua tangan dan kaki melingkari tubuh hewan tersebut, berwajah merah tetapi tersenyum lebar.
“Abu Nawas! Bukankah engkau kularang pulang dengan menunggang keledai?”
“Betul, Baginda, dan hamba taat. Orang menunggang keledai duduk di atas punggungnya. Hamba ada di bawah. Hamba tidak menunggang keledai ini. Keledai inilah yang kebetulan berjalan di atas hamba.”
Rakyat tertawa riuh. Baginda berusaha tetap berwibawa, tetapi akhirnya menyerah. Ia tertawa sampai para pengawalnya ikut tertawa. Abu Nawas boleh tinggal lagi di rumahnya, dan keledainya akhirnya bisa beristirahat.
💖 Pesan Moral
- Baca peraturan dengan teliti. Setiap kata dalam perjanjian bisa berarti lebih dari yang kita kira.
- Jangan cepat menghukum orang hanya karena tafsir mimpi. Selama Abu Nawas pergi, bencana yang diramalkan tidak pernah datang.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Abu Nawas yang populer di Nusantara, salah satu versi. Tokoh ini diilhami penyair Baghdad Abu Nuwas, tetapi anekdot-anekdotnya adalah cerita rakyat.