Kabayan Memetik Nangka
Buah nangka yang masih bergantung di pohon. Gambar: Suyash Dwivedi · CC BY-SA 4.0 · sumber
Kalau ada lomba tidur siang se-Tatar Sunda, Si Kabayan pasti juara. Tetapi siang itu ia tidak bisa mengelak. Mertuanya sudah berdiri di depan bale-bale sambil bertolak pinggang.
“Kabayan! Bangun! Nangka di pohon dekat sungai itu sudah tua. Petik sekarang juga dan bawa pulang. Nyi Iteung sudah kepingin makan nangka.”
Mendengar nama istrinya, Kabayan bangun juga, walau dengan mata setengah terpejam. Ia mencari golok, memakai caping, dan berjalan menyusuri pematang dengan langkah orang yang tidak terburu-buru. Sesekali ia berhenti memandangi burung, lalu berhenti lagi karena ada capung.
Pohon nangka itu berdiri tepat di tepi sungai. Buahnya besar dan harum. Kabayan memanjat dengan susah payah, memotong tangkainya, dan buah itu jatuh berdebam di tanah. Ia turun, mengangkatnya, dan langsung menurunkannya lagi. Berat sekali! Keringatnya sudah keluar, padahal buah itu baru terangkat sejengkal. Rumah mertuanya masih jauh, dan jalannya menanjak.
Ia duduk di akar pohon sambil berpikir. Dipandanginya nangka itu. Dipandanginya sungai yang mengalir dengan tenang. Air itu mengalir ke arah kampung, melewati dekat rumah mertuanya. Perlahan senyumnya mengembang.
“Nangka,” katanya sambil menepuk-nepuk kulit buah itu, “kata Abah, kamu sudah tua. Orang tua pasti tahu jalan pulang. Silakan pulang sendiri, ya. Hati-hati di jalan.”
Ia mendorong nangka itu dengan kaki. Buah itu menggelinding, tercebur, lalu timbul dan hanyut mengikuti arus. Kabayan melambaikan tangan sampai buah itu hilang di tikungan. Setelah itu, karena angin sedang enak dan tugasnya sudah selesai, ia berbaring sebentar di bawah pohon. Sebentar itu ternyata sampai sore.
Saat matahari mulai condong, ia berjalan pulang dengan tangan kosong dan hati ringan. Mertuanya sudah menunggu di depan rumah.
“Mana nangkanya, Kabayan?”
Kabayan melongok ke dalam rumah dengan heran. “Lo, belum sampai, Bah?”
“Sampai bagaimana? Siapa yang mengantar?”
“Tidak ada. Nangka itu saya suruh pulang sendiri lewat sungai.”
Mertuanya terbelalak. “Pulang sendiri? Dasar kamu ini! Mana bisa nangka pulang sendiri?”
“Lho, Abah sendiri yang bilang nangka itu sudah tua,” jawab Kabayan dengan wajah polos. “Sudah tua begitu, masa tidak tahu jalan pulang?”
Mertuanya membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Wajahnya merah, dan ia berbalik mengambil sapu. Kabayan pun sudah tahu kapan saatnya berlari, dan untuk urusan itu, ia sama sekali tidak malas.
💖 Pesan Moral
- Jalan pintas sering membuat kerja menjadi dua kali. Nangka yang terlalu berat lebih baik dibelah atau diangkut bersama teman daripada dihanyutkan begitu saja.
- Tertawalah pada Kabayan, tetapi periksa diri sendiri. Siapa tahu kita juga punya “nangka” yang kita harap pulang sendiri.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Sunda tentang Si Kabayan, salah satu versi.