Gopal Bhar Menghitung Bintang
Silakan mulai menghitung. Bintang di langit malam India. Gambar: Nikhil More · CC BY-SA 4.0 · sumber
Suatu hari, Maharaja Krishnachandra dari Nadia menerima pesan yang membuatnya lemas. Sang Nawab, penguasa di atasnya, menginginkan dua hal: seluruh bumi diukur dari ujung ke ujung, dan semua bintang di langit dihitung. Tak ada alasan yang diterima.
“Ini mustahil,” kata sang Maharaja kepada utusannya.
“Tuanku Nawab berkata, lakukan saja,” jawab si utusan.
Sang Maharaja duduk termenung di balairungnya dengan wajah murung. Tak lama kemudian Gopal Bhar lewat, si pelawak istana yang gemuk dan terkenal dengan akalnya. Ia berhenti, memilin ujung kumisnya, dan bertanya, “Maharaja, ada apa ini? Kalau ada kesulitan, ceritakan saja kepada Gopal.”
“Tidak ada gunanya, Gopal. Soal ini engkau pun tak akan sanggup.” Lalu ia menceritakan permintaan sang Nawab.
Gopal tidak terkejut sama sekali. “Oh, itu saja? Angkatlah hamba menjadi Juru Ukur Bumi dan Juru Hitung Bintang resmi. Lalu mintalah kepada Nawab satu tahun waktu, dan sejuta rupee untuk biaya kerja. Tahun depan hamba sendiri yang akan menyerahkan hasilnya.”
Sang Maharaja sangat lega. Kalau gagal, kepala Gopal yang akan melayang, bukan kepalanya. Ia segera menulis surat, dan sang Nawab menyetujuinya.
Maka Gopal pun menjalani tahun yang amat menyenangkan. Ia makan enak, membangun rumah, membeli gajah dan perhiasan, dan tidak mengukur apa pun. Ketika setahun hampir habis, ia menghadap sang Maharaja sambil menggemerincingkan beberapa keping uang logam, sisa sejuta rupee itu, dan membuat wajahnya tampak prihatin.
“Pekerjaan ini lebih berat daripada dugaan hamba, Maharaja. Awalnya bagus, dan hasilnya menjanjikan. Hamba hanya perlu satu tahun lagi. Dan, kalau boleh, sejuta rupee lagi.”
Dengan berat hati sang Maharaja menyampaikannya kepada Nawab, dan dengan berat hati pula sang Nawab mengabulkannya. Tahun kedua Gopal bahkan lebih menyenangkan, karena sekarang ia sudah berpengalaman.
Tepat setahun kemudian, sebuah iring-iringan aneh memasuki gerbang istana sang Nawab. Paling depan berjalan Gopal Bhar, disusul lima belas gerobak sapi yang sarat dengan gulungan benang kusut, bertumpuk dan saling membelit. Di belakangnya, digiring oleh seorang pembantu, berjalan lima ekor domba yang sangat gemuk dan berbulu lebat.
Gopal membungkuk dengan anggun. “Tuanku, perintah telah hamba laksanakan. Bumi sudah hamba ukur, dan bintang sudah hamba hitung.”
“Bagus. Sebutkan angkanya.”
“Angka, Tuanku? Di dalam perintah tidak disebutkan angka.” Gopal menunjuk gerobak-gerobaknya dengan bangga. “Lebar bumi sama dengan panjang benang di tujuh gerobak pertama, dan panjangnya sama dengan benang di delapan gerobak sisanya. Adapun jumlah bintang di langit tepat sama dengan jumlah helai bulu pada lima ekor domba ini. Lama sekali hamba mencari domba dengan jumlah bulu yang pas.”
Sang Nawab menatap gerobak itu, lalu para domba, lalu Gopal.
“Mana mungkin aku mengukur benang sebanyak itu? Mana mungkin aku menghitung bulu domba?”
“Hamba mengerti, Tuanku,” kata Gopal dengan penuh simpati. “Pekerjaan itu memang mustahil.”
Sang Nawab membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dari wajah Gopal yang bulat dan tenang, ia tahu bahwa ia telah kalah. Sejak hari itu, ia lebih berhati-hati dengan permintaannya kepada sang Maharaja.
💖 Pesan Moral
- Perintah yang mustahil bisa dijawab dengan jawaban yang mustahil dibantah. Sang Nawab menerima kembali permintaannya dalam bentuk lain.
- Atasan yang menuntut hal tak masuk akal akan mendapat laporan yang tak masuk akal.
- Bagi yang sedang membuat proposal: Gopal memberi contoh cara meminta perpanjangan waktu. Sebaiknya jangan ditiru.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Bengal tentang Gopal Bhar, pelawak istana Maharaja Krishnachandra dari Nadia, salah satu versi. Sejarawan masih memperdebatkan apakah Gopal Bhar benar-benar pernah hidup.