Hikoichi dan Jubah yang Tak Terlihat
Seekor tengu berhidung panjang sedang bermain, dalam gambar Katsushika Hokusai. Gambar: Katsushika Hokusai · Public domain · sumber
Hikoichi dari Yatsushiro punya satu masalah: otaknya tidak bisa diam. Suatu hari ia mendengar bahwa tengu, makhluk gunung berhidung panjang, memiliki jubah jerami ajaib. Siapa pun yang mengenakannya akan lenyap dari pandangan. Hikoichi langsung merasa bahwa benda seperti itu lebih cocok berada di tangannya.
Ia memotong sebatang bambu biasa, naik ke bukit tempat tengu itu suka duduk, lalu mengintip ke dalam bambu itu sambil berseru-seru girang.
“Wah! Kelihatan jelas sekali! Ada pasar ramai di Kyoto! Ada pesta di Edo! Wah, lihat itu, ikan di dasar laut!”
Tengu itu mendekat. Ia penasaran.
“Hei, Bocah. Benda apa itu?”
“Ini teropong sakti, Tuan Tengu. Dengan ini saya bisa melihat ke seluruh Jepang.”
“Pinjamkan!”
“Aduh, jangan. Ini pusaka keluarga.” Hikoichi memeluk bambunya erat-erat. Makin ia menolak, makin ingin si tengu. Akhirnya, dengan wajah sangat berat, Hikoichi mengusulkan tukar sebentar: bambu ini dengan jubah jerami tuan.
Tengu itu menyerahkan jubahnya dan menempelkan bambu ke matanya. Ia melihat langit dan daun, sama persis seperti tanpa bambu. Ketika ia menurunkannya untuk marah, Hikoichi sudah tidak ada. Benar-benar tidak ada.
Beberapa minggu berikutnya menjadi masa paling bahagia dalam hidup Hikoichi. Ia makan kue di warung tanpa bayar. Ia menjawil hidung kepala desa. Ia duduk di kedai arak dan menghabiskan botol demi botol, sementara pemiliknya menatap cangkir yang terbang sendiri dan berjanji tidak akan minum arak lagi.
Sampai suatu pagi, ibunya membereskan rumah. Ia menemukan jubah jerami kumal dan bau di pojok lemari. Tanpa pikir panjang, jubah itu dimasukkan ke tungku.
Hikoichi pulang dan menjerit melihat seonggok abu. Dengan putus asa ia meraup abu itu, dan tangannya lenyap.
Ia berhenti menangis. Pelan-pelan senyumnya kembali. Ia melepas semua pakaiannya, mengusapkan abu ke seluruh tubuh, dari ubun-ubun sampai jari kaki, lalu berangkat ke kedai arak.
Semua berjalan lancar sampai hari yang panas. Kedai mulai curiga, dan beberapa orang menunggu di dekat botol. Ketika sebuah cangkir terangkat sendiri, mereka melompat dan menangkap udara kosong yang ternyata berteriak. Hikoichi meronta, lolos, dan berlari sekencang-kencangnya sambil dikejar sekampung. Di jalan ada sungai. Ia melompat ke dalamnya, mengira akan aman.
Abu tidak suka air.
Warga desa yang berdiri di tepi sungai pun menyaksikan Hikoichi muncul sedikit demi sedikit, mulai dari kepala, tanpa selembar benang pun. Konon sejak itu ia lebih sopan di kedai arak, setidaknya selama beberapa hari.
💖 Pesan Moral
- Rasa ingin dan rasa gengsi bisa lebih kuat dari akal. Tengu sakti pun tertipu oleh sebatang bambu.
- Kalau tak ada yang melihat, watak asli kelihatan. Hikoichi tidak memakai kesaktiannya untuk apa pun selain mencuri arak.
- Dan untuk jaga-jaga: jangan bersembunyi di balik sesuatu yang luntur kena air.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi kisah Hikoichi dan jubah tengu, bagian dari cerita jenaka Hikoichi-banashi di daerah Yatsushiro, Kumamoto, Jepang.