Patacara Kehilangan Segalanya
Relief yang menggambarkan Patacara menerima ajaran dari Buddha. Gambar: Anandajoti · CC BY-SA 4.0 · sumber
Patacara lahir di Savatthi sebagai putri seorang saudagar yang sangat kaya. Pada usia enam belas tahun ia dijaga ketat di lantai atas rumah orang tuanya, dan pada usia itu pula ia jatuh cinta kepada seorang pelayan keluarga. Ketika orang tuanya menjodohkannya dengan pemuda sederajat, ia kabur bersama pelayan itu pada hari pernikahan yang telah ditetapkan.
Mereka hidup di sebuah desa terpencil. Suaminya menggarap ladang, dan ia, yang sejak kecil tak pernah mengambil air sendiri, belajar memasak dan menumbuk padi. Ia melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika hamil anak kedua, ia ingin pulang ke rumah orang tuanya untuk melahirkan. Ia berkali-kali meminta, dan suaminya menolak karena takut akan dihukum. Akhirnya ia berangkat sendiri bersama anaknya, dan suaminya menyusul.
Di tengah perjalanan, badai turun dengan hebat dan ia mulai melahirkan. Ia meminta suaminya membuat tempat berteduh. Suaminya masuk ke semak untuk memotong kayu, dan seekor ular yang keluar dari sarang semut menggigitnya. Ia meninggal di sana.
Sepanjang malam Patacara membungkuk di atas kedua anaknya, melindungi mereka dengan tubuhnya dari hujan dan angin. Pagi harinya ia menemukan jasad suaminya, lalu menangis sambil menyalahkan dirinya sendiri.
Dengan bayi merah di pelukan dan anak sulung di sisinya, ia berjalan sampai ke Sungai Aciravati. Air sungai sedang meluap. Ia tak sanggup menyeberangkan keduanya sekaligus, jadi ia menyuruh si sulung menunggu, menggendong bayinya menyeberang, membaringkannya di atas ranting, lalu kembali. Di tengah sungai ia menoleh, dan melihat seekor elang menukik dan menyambar bayinya. Ia melambai dan menjerit. Anak sulungnya di seberang mengira ibunya memanggil. Ia melangkah ke dalam air, dan arus membawanya pergi.
Ia berjalan terus, seperti orang yang sudah tak tahu ke mana lagi. Di dekat Savatthi ia bertemu seorang pria dari kota itu dan bertanya tentang keluarga saudagarnya. Pria itu menunjuk ke kepulan asap di kejauhan. Badai semalam merobohkan rumah keluarga itu, katanya. Ayah, ibu, dan saudara laki-lakinya sedang dibakar pada satu tumpukan kayu.
Dalam beberapa hari ia kehilangan segalanya. Pikirannya tak sanggup lagi. Ia berjalan tanpa tujuan, tak lagi peduli pada keadaan dirinya, dan orang-orang mengusirnya dengan lemparan sampah.
Langkahnya membawanya ke Jetavana, tempat Buddha sedang mengajar. Orang-orang berusaha mengusirnya. Buddha berkata, biarkan dia, lalu ketika ia sudah dekat, beliau berkata lembut, “Saudari, kembalilah pada kesadaranmu.”
Kata-kata itu sampai kepadanya. Seseorang memberinya kain penutup. Ia bersujud dan menceritakan segalanya. Buddha tidak menyangkal deritanya. Beliau berkata bahwa air mata yang telah ia tumpahkan sepanjang hidup-hidup yang lampau lebih banyak daripada air di empat samudra, dan tak ada anak, orang tua, atau kerabat yang bisa menjadi pelindung ketika maut datang.
Patacara menjadi biksuni. Ia berlatih dengan tekun, dan kelak menjadi guru disiplin yang terkemuka. Banyak perempuan yang kehilangan anak datang kepadanya, karena tak ada yang lebih mengerti.
💖 Pesan Moral
- Duka terdalam pun bisa ditemani. Yang pertama diterima Patacara adalah kehadiran yang tidak mengusirnya.
- Ucapan lembut bisa menjangkau yang lain tak terjangkau. Satu kalimat lebih menyembuhkan daripada semua lemparan dan celaan orang.
- Luka bisa menjadi bekal menolong orang lain. Yang pernah kehilangan segalanya akhirnya menjadi sandaran bagi banyak orang yang berduka.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Patacara dalam tafsir Dhammapada (syair 113) dan syair-syairnya dalam Therigatha. Rincian peristiwa mengikuti riwayat tradisi Buddhis.