Paku Milik Hoca
Rumah-rumah tua di Safranbolu, Turki, gambaran kampung tempat kisah seperti ini beredar. Gambar: Hamdigumus · CC0 · sumber
Hoca sedang butuh uang, dan satu-satunya harta yang bisa dijual hanyalah rumahnya. Seorang pedagang kaya menawar dengan harga yang lumayan. Hoca menyetujuinya, tetapi ketika akan menandatangani perjanjian, ia mengangkat tangan.
“Saya punya satu syarat kecil. Rumah ini saya jual seluruhnya, kecuali satu.”
“Kecuali apa?” tanya si pedagang dengan cemas.
Hoca menunjuk sebatang paku yang tertancap di dinding ruang tengah.
“Paku itu tetap milik saya. Ada nilai kenangannya.”
Si pedagang tertawa lega. Dasar orang aneh! Sebatang paku berkarat tak ada harganya. Ia mengangguk, dan syarat itu dituliskan dalam perjanjian di hadapan saksi. Uang berpindah tangan, Hoca pindah ke rumah sewaan, dan pedagang itu memasukkan keluarganya ke rumah baru.
Seminggu kemudian pintu diketuk. Hoca berdiri di depan rumah dengan senyum ramah.
“Selamat pagi. Saya mau menengok paku saya.”
Pedagang itu terheran-heran, tetapi perjanjian tetaplah perjanjian. Hoca masuk, berdiri di depan paku, mengamatinya, mengelapnya dengan ujung lengan baju, dan mengangguk puas. Lalu ia duduk sebentar, karena perjalanannya lumayan jauh. Kebetulan hidangan sedang disajikan. Akan sangat tidak sopan bila tuan rumah tidak mengajaknya makan.
Beberapa hari kemudian ia datang lagi.
“Saya kepikiran, jangan-jangan paku saya kesepian.”
Lalu ia datang pada pagi hari, sore hari, bahkan pada malam ketika keluarga itu kedatangan tamu terhormat. Ia datang saat hujan untuk memastikan paku itu tidak kedinginan. Ia datang pada hari panas untuk melihat apakah paku itu baik-baik saja. Setiap kali, ia berdiri khidmat di ruang tengah, memeriksa barang miliknya yang sah, lalu duduk mengobrol sampai larut.
Si pedagang mulai kehilangan kesabaran. “Hoca, ini keterlaluan! Kamu datang setiap saat!”
“Tentu saja,” jawab Hoca sambil membuka perjanjian dari balik jubahnya. “Lihat sendiri. Paku ini milik saya. Masakan orang dilarang menengok miliknya sendiri?”
Pedagang itu membawa perkara ke para tetangga, tetapi tak seorang pun bisa membantahnya. Syarat itu tertulis, ada saksinya, dan pedagang itu sendiri yang menyetujuinya sambil tertawa.
Berbulan-bulan kemudian, pedagang itu tak tahan lagi. Rumah yang ia beli dengan mahal terasa seperti penginapan umum. Suatu pagi, ketika Hoca kembali datang menengok pakunya, pedagang itu menyerahkan kunci ke tangannya.
“Ambil. Ambil rumah ini, ambil pakumu. Aku pergi.”
Hoca menerima kunci itu dengan sopan. Ia berjalan ke ruang tengah, menepuk paku itu dengan penuh kasih sayang, dan berkata pelan, “Benar kan, sudah kubilang. Paku kecil ini ada nilainya.”
💖 Pesan Moral
- Baca semua syarat sebelum menandatangani. Klausul yang tampak remeh bisa menjadi pintu masuk bagi masalah besar.
- Jangan menertawakan yang kecil. Satu celah sering sudah cukup bagi orang yang pandai memanfaatkannya.
- Kalau Anda membeli rumah, periksa juga pakunya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot yang dikenal di Turki sebagai kisah Nasreddin Hoca dan di dunia Arab sebagai “Paku Juha”. Di dunia Arab, ungkapan itu menjadi peribahasa tentang dalih untuk terus mencampuri milik orang lain. Rincian kunjungannya berbeda-beda antarpenutur.