Untung Aku Tidak di Atasnya
Patung Nasreddin dan keledainya di Samarkand. Keledai yang sama pernah hilang, dan ia malah bersyukur. Gambar: Ziegler175 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Suatu pagi, Nasreddin Hoca keluar ke halaman dan mendapati kandang keledainya kosong. Pintunya terbuka, talinya terputus. Keledai kesayangannya, satu-satunya kendaraan dan teman setianya bekerja, telah hilang.
Kabar itu cepat menyebar. Para tetangga berdatangan, dan anehnya, Nasreddin tidak terlihat sedih. Ia malah berlutut di halaman, menengadahkan tangan, dan berkali-kali mengucap syukur dengan suara keras.
Para tetangga saling berpandangan. “Hoca, apakah kau sudah tidak waras? Keledaimu hilang, kenapa kau malah bersyukur?”
Nasreddin berdiri dan menepuk-nepuk debu di lututnya. “Tentu saja aku bersyukur. Coba pikirkan: seandainya semalam aku sedang menunggangi keledai itu, aku pasti ikut hilang bersamanya!”
Para tetangga tertawa geli. Ada yang menggeleng-gelengkan kepala, ada yang menepuk bahunya. Beberapa di antara mereka kemudian membantu mencari keledai itu di kampung-kampung sekitar, sementara Nasreddin tetap bersiul-siul sambil mengerjakan pekerjaannya.
Tentu saja, logika Nasreddin terdengar konyol. Seekor keledai tidak hilang seperti asap. Namun, para tetua di kampung itu memahami bahwa di balik lelucon ini ada cara pandang yang sangat berharga.
Dalam hidup, kehilangan pasti datang. Barang hilang, rencana gagal, usaha merugi. Kita tidak selalu bisa memilih apa yang terjadi, tetapi kita selalu bisa memilih bagaimana memandangnya. Seseorang yang kehilangan dompet bisa menghabiskan sepanjang hari dengan marah dan mengeluh, atau ia bisa berkata, “Untung yang hilang hanya dompet, bukan kesehatanku.”
Bersyukur di tengah kesulitan bukan berarti berpura-pura tidak ada masalah. Nasreddin tetap membutuhkan keledainya, dan ia tetap mencarinya. Bedanya, ia tidak membiarkan satu kehilangan merampas kegembiraan hari-harinya. Hatinya tetap ringan, dan dengan hati yang ringan, pikiran pun lebih jernih untuk mencari jalan keluar.
Selalu ada sesuatu yang masih bisa disyukuri, bahkan pada hari yang paling buruk sekalipun. Kadang kita hanya perlu sedikit humor untuk melihatnya.
Para psikolog modern menyebut cara pandang seperti ini sebagai kemampuan membingkai ulang keadaan. Kita tidak mengubah faktanya, tetapi mengubah makna yang kita berikan pada fakta itu. Nasreddin melakukannya dengan tawa, ratusan tahun sebelum istilah itu dikenal. Lain kali ketika kehilangan datang, cobalah bertanya: apa yang masih tersisa, dan apa yang masih bisa kusyukuri hari ini?
Dan siapa tahu, dengan hati yang tenang, kita justru lebih cepat menemukan “keledai” kita yang hilang.
Seperti Nasreddin, kita boleh kehilangan banyak hal, asalkan tidak kehilangan kemampuan untuk tersenyum.
💖 Pesan Moral
- Dalam setiap kehilangan, selalu ada hal yang masih bisa disyukuri.
- Kita tidak bisa memilih apa yang terjadi, tetapi bisa memilih cara memandangnya.
- Hati yang ringan membuat pikiran lebih jernih untuk mencari jalan keluar.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot rakyat Turki tentang Nasreddin Hoca dan keledainya.