Tengkorak yang Berbicara
Permukiman Nupe dalam lukisan Carl Arriens, seniman yang ikut ekspedisi Leo Frobenius. Gambar: Carl Arriens · Public domain · sumber
Seorang pemburu Nupe sedang berjalan jauh di dalam semak-semak ketika ia menemukan tengkorak manusia tergeletak di tanah. Tulang itu sudah tua dan kering, separuh tertutup rumput. Pemburu biasa barangkali akan melangkah terus. Namun orang ini punya kebiasaan buruk: ia tak bisa melihat sesuatu tanpa mengomentarinya.
Ia berjongkok, menatap rongga mata yang kosong itu, lalu bergumam:
“Apa yang membawamu kemari?”
Angin berhenti. Dari tengkorak itu terdengar suara yang kering dan pelan.
“Bicara yang membawaku kemari.”
Pemburu itu terlonjak, kakinya gemetar, dan ia lari secepat mungkin. Sepanjang jalan ia tak henti mengulang kalimat itu. Ia baru berhenti di depan balairung raja. Tanpa menunggu napasnya pulih, ia berlutut dan berseru:
“Baginda! Hamba menemukan tengkorak di semak-semak, dan tengkorak itu bisa berbicara!”
Raja mengerutkan kening. Sudah lama ia hidup, sudah banyak ia mendengar orang membual, tetapi kabar seperti ini belum pernah sampai ke telinganya.
“Sejak ibuku melahirkanku, tak pernah kudengar tengkorak berbicara,” katanya. Ia memanggil para pengawalnya. “Pergilah bersama orang ini. Kalau tengkorak itu berbicara, baiklah. Kalau tidak, penggallah kepalanya.”
Pemburu itu tidak khawatir. Ia malah bangga. Ia memimpin para pengawal melewati jalan setapak dengan langkah penuh keyakinan, sambil menceritakan betapa terkejutnya mereka nanti. Sampailah mereka di tempat itu. Tengkorak tersebut masih tergeletak di sana.
Pemburu itu berjongkok seperti tadi.
“Apa yang membawamu kemari?”
Tak ada jawaban. Angin menggoyang rumput.
Ia bertanya lagi, lebih keras. Tetap sunyi. Ia mengubah nada suaranya, membujuk, memohon, menepuk tanah di dekat tengkorak itu. Matahari bergeser di langit. Sepanjang hari ia mengulang pertanyaan yang sama sampai suaranya serak, dan para pengawal berdiri menonton dengan wajah makin dingin. Tengkorak itu hanya menatap kosong, seperti yang semestinya dilakukan sebuah tengkorak.
Menjelang senja, para pengawal mengatakan bahwa sudah cukup. Mereka melaksanakan perintah raja, lalu berjalan pulang dan meninggalkannya di sana.
Semak-semak kembali sepi. Setelah langkah para pengawal lenyap di kejauhan, tengkorak tua itu berbicara.
“Apa yang membawamu kemari?”
Kepala si pemburu, yang kini tergeletak di sampingnya, menjawab:
“Bicara yang membawaku kemari.”
💖 Pesan Moral
- Tidak semua yang kita tahu harus kita sebarkan. Kabar yang disampaikan tanpa pikir panjang bisa berbalik menjerat pembawanya.
- Jangan memberi janji atas nama hal yang tak bisa kita kendalikan. Si pemburu mempertaruhkan lehernya pada sesuatu yang bukan miliknya.
- Peringatan sering datang lebih dulu. Jawaban tengkorak itu sudah mengatakan segalanya sejak awal, hanya saja si pemburu sibuk berlari untuk menceritakannya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Nupe, Nigeria, yang dihimpun Leo Frobenius dan Douglas C. Fox dalam African Genesis; salah satu versi dari kisah tengkorak berbicara yang dikenal di Afrika Barat.