Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Kura-kura dan Kelinci

3 menit baca

Kelinci yang sombong menantang kura-kura, disaksikan para penghuni hutan. Ilustrasi Arthur Rackham (1912). Gambar: Arthur Rackham · Public domain · sumber

Di sebuah hutan, hiduplah seekor kelinci yang sangat bangga akan kecepatannya. Setiap hari ia berlari mengelilingi hutan, lalu berhenti di depan hewan-hewan lain untuk menyombongkan diri. “Tidak ada yang bisa mengalahkanku! Akulah pelari tercepat di seluruh hutan!”

Suatu pagi, ia melihat seekor kura-kura berjalan perlahan menuju kolam. Kelinci tertawa terbahak-bahak. “Hai, Kura-kura! Kapan kamu akan sampai? Tahun depan? Kakimu itu sebenarnya untuk berjalan atau untuk hiasan?”

Hewan-hewan lain ikut tertawa. Kura-kura berhenti, menoleh dengan tenang, lalu berkata, “Kelinci, kalau kamu begitu yakin, bagaimana kalau kita berlomba lari?”

Tawa kelinci makin keras. “Berlomba? Denganmu? Baiklah! Ini akan menjadi lomba paling lucu yang pernah ada!”

Burung hantu yang bijak ditunjuk sebagai juri. Rutenya ditentukan: dari pohon ek besar sampai ke batu di seberang bukit. Keesokan harinya, seluruh penghuni hutan berkumpul untuk menonton.

Begitu aba-aba diberikan, kelinci melesat bagaikan anak panah. Dalam sekejap ia sudah menghilang di balik semak-semak. Kura-kura melangkah pelan, satu langkah demi satu langkah, tanpa terburu-buru tetapi juga tanpa berhenti.

Setelah berlari cukup jauh, kelinci menoleh ke belakang. Kura-kura sama sekali tidak terlihat. “Ah, dia masih jauh sekali,” pikirnya. “Matahari hangat, rumput di sini empuk. Aku istirahat sebentar saja. Nanti aku tinggal berlari lagi dan tetap menang.”

Ia pun berbaring di bawah pohon rindang. Angin sepoi-sepoi membelai bulunya, dan tak lama kemudian ia tertidur lelap.

Sementara itu, kura-kura terus berjalan. Kakinya pegal, napasnya berat, tetapi ia tidak berhenti. Ia melewati kelinci yang sedang mendengkur di bawah pohon. Ia tidak membangunkannya dan tidak juga mengejeknya. Ia hanya terus melangkah.

Matahari mulai condong ke barat ketika kelinci terbangun. Ia meregangkan badan dan melihat sekeliling. “Kura-kura pasti masih jauh di belakang,” gumamnya. Namun dari kejauhan, ia mendengar sorak-sorai. Ia memandang ke arah garis akhir dan matanya terbelalak.

Kura-kura sudah hampir sampai di batu di seberang bukit!

Kelinci berlari secepat-cepatnya, lebih cepat daripada sebelumnya. Namun terlambat. Kura-kura melangkah melewati garis akhir beberapa saat sebelum kelinci tiba, disambut tepuk tangan seluruh hutan.

Dengan napas terengah-engah dan wajah merah karena malu, kelinci hanya bisa terdiam. Kura-kura menghampirinya dan berkata dengan lembut, “Kamu memang lebih cepat dariku, Kelinci. Tapi lomba tidak dimenangkan oleh yang paling cepat, melainkan oleh yang tidak berhenti sampai garis akhir.”

💖 Pesan Moral

  • Pelan tapi tekun akan mengalahkan cepat tapi lalai. Konsistensi lebih berharga daripada bakat yang disia-siakan.
  • Kesombongan membuat kita meremehkan orang lain dan lengah terhadap diri sendiri.
  • Jangan membandingkan langkahmu dengan orang lain. Fokuslah untuk terus maju dengan caramu sendiri.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Kura-kura dan Kelinci”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Lièvre et la Tortue”.