Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Si Boru Deak Parujar dan Segenggam Tanah

3 menit baca

Sopo Guru Tatea Bulan di Sianjur Mula-Mula, Samosir, wilayah yang lekat dengan asal-usul orang Batak. Gambar: Nathan Veritas · CC BY-SA 4.0 · sumber

Sebelum ada daratan, sebelum ada gunung dan danau, orang Batak mengisahkan tiga lapis dunia. Di atas sana, di dunia para dewa, bertakhta Mulajadi Na Bolon, pencipta segala sesuatu. Di bawahnya hanya terbentang air tanpa tepi. Belum ada satu pun tempat untuk berpijak.

Di dunia atas tinggal Si Boru Deak Parujar, putri Batara Guru. Ia terkenal pandai memintal dan menenun. Ketika tiba waktunya menikah, ia dijodohkan dengan Raja Odap-Odap, sosok yang dalam sebagian tuturan berupa seperti kadal. Si Boru Deak Parujar tidak mau, tetapi menolak secara terang-terangan juga tidak mudah.

Ia punya akal. “Aku bersedia,” katanya, “asalkan tenunanku selesai lebih dulu.”

Benang dan kapas pun diberikan. Sepanjang siang ia bekerja dengan tekun di hadapan semua orang. Malam harinya, diam-diam, ia mengurai kembali semua yang telah dikerjakannya. Besok paginya pekerjaan itu dimulai lagi dari awal. Begitu seterusnya, hari demi hari, tanpa pernah selesai.

Tipu daya itu akhirnya terbongkar. Dalam sebagian tuturan ia diturunkan sebagai hukuman; dalam tuturan lain ia sendiri yang melarikan diri. Ia memintal seutas benang panjang, lalu turun melaluinya dari langit, jauh ke bawah, menuju dunia tengah yang masih berupa air.

Tidak ada apa-apa di sana. Hanya air dan kesunyian. Tempat itu sama sekali tidak nyaman, tetapi Si Boru Deak Parujar sudah bertekad tidak akan kembali.

Ia memohon ke atas. Mulajadi Na Bolon, yang masih menyayanginya, mengirimkan segenggam tanah.

Segenggam saja. Si Boru Deak Parujar menaburkan tanah itu di atas air, lalu meratakannya dan melebarkannya, seperti ia meratakan benang di alat tenun. Tanah itu melebar dan memanjang, sedikit demi sedikit, sampai menjadi daratan yang bisa dipijak.

Ia tidak tahu bahwa di bawah air tinggal Naga Padoha, makhluk raksasa penghuni dunia bawah. Tanpa sengaja, tanah itu ia hamparkan tepat di atas kepalanya. Naga itu merasa terganggu dan mulai berguling untuk menyingkirkan beban tersebut. Daratan yang baru terbentuk berguncang dan retak. Kerja kerasnya berantakan.

Ia mulai lagi, dan daratan kembali diguncang. Akhirnya ia tidak lagi sekadar memperbaiki. Dengan berani, Si Boru Deak Parujar menghunjamkan pedang ke tubuh Naga Padoha sampai ke gagangnya, sehingga makhluk itu tidak bisa lagi bergerak bebas. Sejak itu, setiap kali Naga Padoha menggeliat dalam ikatannya, orang di permukaan merasakan gempa bumi.

Bumi kini tenang. Raja Odap-Odap kemudian turun menyusul, dan kali ini Si Boru Deak Parujar menerimanya. Mereka dikaruniai sepasang anak kembar, dan dari keturunan mereka lahirlah manusia, termasuk Si Raja Batak, leluhur orang Batak di kaki Gunung Pusuk Buhit.

Setelah anak-anaknya dewasa, ia kembali ke langit bersama suaminya. Ia meninggalkan daratan yang dulu hanya segenggam tanah.

💖 Pesan Moral

  • Mulai dari yang ada. Sebuah dunia bisa berawal dari segenggam tanah, asalkan ada yang mau meratakannya.
  • Pekerjaan yang rusak bisa dimulai lagi. Si Boru Deak Parujar tidak berhenti ketika daratannya diguncang.
  • Sebagian masalah harus dihadapi, bukan ditambal. Daratan baru tenang setelah sumber guncangannya dibereskan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi mitos penciptaan Batak Toba, Sumatra Utara. Silsilah dan rincian kisah ini berbeda-beda antarnaskah dan penutur.