Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Cupak dan Gurantang

3 menit baca

Pertunjukan wayang Sasak di Lombok, salah satu seni tutur di tanah asal kisah Cupak dan Gurantang. Gambar: Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Koalisi Seni · CC BY 4.0 · sumber

Di panggung-panggung desa Lombok, dua tokoh selalu berhasil membuat penonton tertawa sekaligus geram. Yang satu bertubuh tambun, wajahnya rakus, suaranya besar. Namanya Cupak. Yang satu lagi halus tutur katanya dan tampan rupanya. Namanya Gurantang. Keduanya bersaudara, tetapi sifat mereka berseberangan seperti siang dan malam.

Cupak malas bekerja. Kalau ada makanan, ia yang paling cepat. Kalau ada bahaya, ia yang paling dulu lari. Gurantang rajin dan sabar. Ia kerap menanggung kesalahan kakaknya, karena baginya saudara tetaplah saudara.

Pengembaraan membawa keduanya ke sebuah kerajaan yang sedang berduka. Putri raja dilarikan raksasa dan disembunyikan di dasar sebuah sumur yang dalam. Raja mengumumkan sayembara: siapa pun yang bisa membawa putrinya pulang boleh menikahinya.

Cupak langsung bersemangat. Ia membayangkan istana dan hidangan yang tak ada habisnya. Ia menyatakan diri sanggup dengan dada dibusungkan, padahal ia tahu betul siapa yang akan bekerja.

Mereka menemukan sumur itu. Lubangnya gelap dan dingin, dan dari dalamnya terdengar suara sang raksasa. Cupak mundur beberapa langkah.

“Kau saja yang turun, adikku,” katanya. “Aku akan menjaga tali di atas.”

Gurantang turun tanpa banyak bicara. Di dasar sumur ia bertarung melawan raksasa, dan setelah lama berjuang ia berhasil mengalahkannya. Ia menemukan sang putri, mengikatkan tali pada tubuhnya, dan memberi isyarat agar ditarik ke atas.

Cupak menarik tali itu dengan penuh tenaga. Ketika melihat sang putri selamat di hadapannya, sebuah pikiran licik muncul. Kalau Gurantang tetap di bawah, siapa yang akan tahu? Ia pun tak lagi mengulurkan tali. Ia menggulingkan batu besar untuk menutup mulut sumur, lalu membawa sang putri ke istana dan mengaku sebagai pahlawan.

Raja bersukacita. Cupak dijadikan menantu dan hidup berlimpah. Namun sang putri diam saja dengan hati yang tertekan, sebab ia tahu siapa penolongnya yang sebenarnya.

Bagaimana Gurantang bisa keluar dari sumur, para penutur punya kisahnya masing-masing. Yang pasti, ia selamat. Ia tiba di istana dengan pakaian lusuh, dan kebenaran pun terbongkar. Sang putri mengenalinya, dan semua kebohongan Cupak runtuh.

Raja murka dan menjatuhkan hukuman mati kepada Cupak. Pada saat itulah Gurantang maju dan berlutut di depan raja.

“Ampuni kakak hamba, Baginda. Bagaimanapun, dia saudara hamba.”

Permintaan itu mengejutkan seisi istana. Cupak yang tadinya gemetar kini hanya bisa menunduk. Orang yang ia tinggalkan di dasar sumur adalah orang yang menyelamatkan nyawanya.

💖 Pesan Moral

  • Keserakahan membutakan rasa persaudaraan. Cupak rela mengubur adiknya demi kenyamanan yang tak berumur panjang.
  • Kebohongan bisa menang sebentar saja. Cepat atau lambat, orang yang berjasa akan dikenali.
  • Memaafkan adalah kemenangan terbesar Gurantang. Ia mengalahkan raksasa di sumur, dan mengalahkan dendam di istana.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Sasak, Lombok, yang juga dikenal sebagai Cupak Gerantang di Bali dan dipentaskan sebagai teater rakyat; salah satu versi.