Manik Angkeran dan Selat Bali
Pura Besakih di lereng Gunung Agung, tempat yang dikaitkan dengan akhir kisah Manik Angkeran. Gambar: CEphoto, Uwe Aranas · CC BY-SA 3.0 · sumber
Dahulu Pulau Bali dan Pulau Jawa masih menyatu. Di tanah Daha, Jawa Timur, tinggal seorang brahmana bernama Sidi Mantra, yang dihormati karena kesaktian dan kesalehannya. Ia punya segala yang dibutuhkan orang untuk bahagia, kecuali satu hal: putra tunggalnya, Manik Angkeran, gemar berjudi.
Harta orang tuanya habis di meja taruhan. Rumah mulai kosong. Setiap kali kalah, Manik Angkeran pulang dengan janji berhenti, dan setiap kali pula ia kembali ke sana. Utangnya menumpuk dan para penagih mulai mendatangi rumah sang brahmana.
Sidi Mantra berdoa meminta jalan keluar. Ia mendapat petunjuk tentang harta di kawah Gunung Agung, di bagian timur pulau itu. Di sana tinggal Naga Besukih, naga agung yang sisiknya berkilau emas dan permata. Sang brahmana pun menempuh perjalanan jauh, duduk di tepi kawah, membunyikan genta, dan melantunkan doa.
Naga itu keluar. Mendengar kesulitan sang brahmana, ia merasa iba. Dari tubuhnya ia memberikan emas dan permata secukupnya, dengan satu pesan agar pemberian itu dipakai dengan bijak. Dengan harta itu Sidi Mantra melunasi utang anaknya dan menasihatinya sekali lagi.
Tak lama kemudian Manik Angkeran kembali berjudi, dan kembali kalah. Sang ayah menolak menolongnya lagi. Maka diam-diam ia mengambil genta ayahnya dan berangkat sendiri ke Gunung Agung.
Di tepi kawah ia membunyikan genta. Naga Besukih keluar, dan kali ini berkata dengan suara yang berat, “Aku tahu siapa engkau. Berhentilah berjudi. Sekali ini saja aku memberi.” Naga itu kemudian berbalik hendak masuk ke kawah.
Manik Angkeran melihat ekor sang naga, yang di ujungnya berkilau permata sebesar kepalan tangan. Keserakahan mengalahkan rasa takutnya. Ia menghunus pedang dan memotong ujung ekor itu, lalu lari sekencang-kencangnya.
Naga Besukih murka. Ia tak mengejar. Ia hanya membakar jejak kaki pemuda itu dari jauh, dan seketika Manik Angkeran roboh menjadi abu.
Sidi Mantra datang dengan langkah gemetar dan memohon maaf di tepi kawah. Naga itu mau memaafkan asalkan ekornya dipulihkan. Dengan kesaktiannya sang brahmana mengembalikan ekor itu, lalu naga menghidupkan Manik Angkeran dari abunya. Pemuda itu bangkit dengan wajah orang yang telah melihat kematiannya sendiri.
Sidi Mantra tahu putranya tak bisa pulang bersamanya. Ia menyuruhnya menetap di dekat gunung dan belajar mengabdi. Dalam perjalanan pulang, di tanah genting yang menghubungkan dua daratan, ia menggoreskan tongkatnya. Air laut naik mengisi garis itu dan memisahkan keduanya. Itulah Selat Bali yang kita kenal sekarang. Manik Angkeran tinggal dan mengabdi di sekitar tempat yang kini dikenal sebagai Besakih.
💖 Pesan Moral
- Kecanduan tidak selesai dengan melunasi utang. Menutup kerugian tanpa mengubah kebiasaan hanya menunda bencana berikutnya.
- Keserakahan membuat kita menyakiti yang telah menolong. Satu kali ayunan pedang menghapus semua kemurahan hati sang naga.
- Cinta orang tua kadang berbentuk jarak. Sidi Mantra menyelamatkan anaknya, lalu membiarkannya menanggung hidup sendiri.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Bali tentang Manik Angkeran dan terjadinya Selat Bali; salah satu versi.