Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Asal-Usul Reog Ponorogo

3 menit baca

Dadak merak, topeng raksasa berkepala singa bermahkota bulu merak yang menjadi ciri kesenian Reog. Gambar: Vstwkr · CC0 · sumber

Tabuhan kendang dan lengkingan selompret di alun-alun Ponorogo selalu berhasil mengundang orang keluar rumah. Di tengah kerumunan, seorang penari mengangkat topeng kepala singa yang dimahkotai ratusan helai bulu merak, seberat puluhan kilogram, hanya dengan kekuatan rahangnya. Banyak yang menonton terpukau tanpa tahu bahwa, menurut salah satu cerita tua, semua itu berawal dari sebuah lamaran.

Prabu Klana Sewandana, raja muda dari Bantarangin, sedang gelisah oleh cinta. Ia mendengar tentang Dewi Sanggalangit, putri Kediri yang kecantikannya menjadi buah bibir. Ia pun mengutus patihnya, Bujangganong, yang bertubuh kecil, berwajah jenaka, tetapi gesit dan cerdas luar biasa.

Dewi Sanggalangit tahu banyak raja mengincarnya. Ia tidak ingin sekadar dipilih karena wajahnya, maka ia mengajukan syarat yang sulit: siapa pun yang melamarnya harus menyuguhkan sebuah tontonan yang belum pernah ada, disertai barisan berkuda dan pengiring yang gagah, diiringi bunyi-bunyian yang baru.

Bujangganong pulang dan menyampaikan syarat itu. Sang prabu tidak mundur. Ia menyiapkan pasukan berkuda, para penari, dan para penabuh. Berbulan-bulan seluruh Bantarangin sibuk berlatih.

Namun jalan menuju Kediri tidak kosong. Di hutan Lodaya berkuasa Singabarong, raja berkepala singa yang juga mengincar sang putri. Di kepalanya bertengger seekor merak yang selalu mematuki kutu di rambutnya, sehingga dari jauh ia tampak seperti singa bermahkota bulu.

Singabarong tak rela rombongan Bantarangin lewat begitu saja. Pasukannya menghadang, dan terjadilah pertarungan besar. Bujangganong bertarung lincah melompat ke sana kemari. Prabu Klana Sewandana maju menghadapi lawan terkuatnya sendiri dan akhirnya mengalahkan Singabarong dengan pusaka andalannya.

Setelah menang, sang prabu berpikir. Dari pertempuran itu ia mendapat gagasan: bagaimana kalau semua yang ia alami dijadikan tontonan? Ia mengarak sosok singa bermerak itu, diiringi prajurit berkuda dan bunyi-bunyian riuh. Rombongan itu masuk ke Kediri sebagai arak-arakan yang belum pernah dilihat orang.

Orang-orang tumpah ke jalan. Dewi Sanggalangit melihatnya dan tahu syaratnya telah terpenuhi. Lamaran pun diterima.

Arak-arakan itulah, kata cerita ini, yang lalu dikenal sebagai Reog. Sampai sekarang tokoh-tokohnya masih muncul: Klana Sewandana yang bertopeng merah, Bujangganong yang lincah, para jathil penunggang kuda, dan barongan raksasa yang disebut dadak merak.

Perlu dicatat, ini bukan satu-satunya kisah asal-usul Reog. Ada versi lain yang mengaitkannya dengan sindiran terhadap penguasa pada masa lampau. Masyarakat Ponorogo menjaga semua cerita itu bersama kesenian yang mereka warisi.

💖 Pesan Moral

  • Karya besar sering lahir dari satu tantangan sulit. Syarat sang putri mendorong orang menciptakan sesuatu yang belum pernah ada.
  • Jangan menilai orang dari tubuhnya. Bujangganong yang kecil justru menjadi tangan kanan paling diandalkan.
  • Pengalaman pahit bisa diolah menjadi karya. Pertempuran yang berat berubah menjadi tontonan yang diwariskan.
  • Kerja sama membuat hal mustahil menjadi mungkin. Reog tak pernah bisa dimainkan sendirian.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari legenda Bantarangin, Ponorogo, Jawa Timur; salah satu dari beberapa versi asal-usul Reog.