Itik Buruk Rupa
Di pondok nenek tua, si itik kelabu kembali dianggap tak berguna. Gambar: Vilhelm Pedersen · Public domain · sumber
Musim panas sedang indah-indahnya di pedesaan. Di tepi sebuah kolam, di balik rimbunnya daun-daun besar, seekor induk itik sedang mengerami telur-telurnya. Satu per satu telur itu menetas, dan keluarlah anak-anak itik kecil berwarna kuning yang lucu.
Hanya satu telur, yang paling besar, yang belum juga menetas. Ketika akhirnya cangkangnya retak, keluarlah seekor anak burung yang besar, kelabu, dan berbeda dari saudara-saudaranya. “Aduh, besar sekali dan jelek pula,” kata induk itik dalam hati. Meski begitu, ia tetap membawanya berenang bersama yang lain.
Di kandang unggas, semua hewan mengejeknya. Itik-itik menggigitnya, ayam-ayam mematuknya, dan anak gadis yang memberi makan menendangnya. Bahkan saudara-saudaranya sendiri berkata, “Semoga kucing menangkapmu, makhluk jelek!” Lama-lama induknya pun mengeluh, “Andai saja kau pergi jauh dari sini.”
Anak itik malang itu akhirnya kabur. Ia terbang melewati pagar dan tiba di rawa tempat itik-itik liar tinggal. Mereka pun memandangnya rendah. Lalu terdengar letusan senapan pemburu, dan anjing-anjing berlarian di rawa. Anak itik itu bersembunyi ketakutan. Seekor anjing besar mendekatinya, mengendus, lalu pergi begitu saja. “Rupanya aku terlalu jelek sampai anjing pun tak mau menggigitku,” pikirnya sedih.
Ia mengembara lagi dan menumpang di pondok seorang nenek yang memelihara kucing dan ayam betina. Kucing itu bisa mendengkur, ayam itu bisa bertelur, dan keduanya menganggap diri paling pintar. “Apa yang bisa kau lakukan?” tanya mereka. Anak itik bercerita betapa ia rindu berenang dan menyelam. Mereka menertawakannya. Ia pun pergi lagi.
Suatu senja di musim gugur, ia melihat sekawanan burung yang sangat indah terbang tinggi menuju selatan. Bulunya putih berkilau, lehernya panjang dan anggun. Itulah angsa-angsa. Anak itik itu memandangi mereka dengan perasaan aneh, seakan-akan ia mencintai mereka tanpa tahu mengapa.
Musim dingin datang dengan kejam. Kolam membeku, dan ia hampir mati terjepit es. Seorang petani menolongnya dan membawanya pulang, tetapi ia ketakutan pada anak-anak petani yang ingin bermain dengannya, lalu kabur lagi. Sepanjang musim dingin ia bertahan seorang diri di antara alang-alang.
Ketika matahari musim semi kembali hangat, ia merentangkan sayapnya. Ternyata sayapnya kini kuat, dan ia terbang tinggi hingga tiba di sebuah taman yang indah. Di danau taman itu berenang tiga ekor angsa putih.
“Aku akan mendekati burung-burung agung itu,” pikirnya. “Biarlah mereka membunuhku karena aku jelek. Lebih baik begitu daripada terus dipatuk dan dihina.” Ia menundukkan kepala ke air, menunggu nasibnya.
Tetapi apa yang ia lihat di permukaan air? Bukan lagi burung kelabu yang canggung, melainkan seekor angsa putih yang anggun. Angsa-angsa lain berenang mengelilinginya dan mengelus bulunya dengan paruh mereka. Anak-anak di tepi danau berseru, “Lihat, ada angsa baru! Dialah yang paling cantik!”
Angsa muda itu merasa malu dan menyembunyikan kepalanya di balik sayap. Ia tidak menjadi sombong, sebab hati yang baik tidak pernah sombong. Ia hanya berbisik dalam hati, “Aku tidak pernah bermimpi akan sebahagia ini ketika aku masih menjadi itik buruk rupa.”
💖 Pesan Moral
- Jangan menilai seseorang dari penampilan luarnya, apalagi saat ia masih bertumbuh.
- Masa-masa sulit dan penolakan bisa menjadi bagian dari perjalanan menuju diri kita yang sebenarnya.
- Tetap rendah hati, bahkan ketika akhirnya kita dihargai.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng Hans Christian Andersen, “Itik Buruk Rupa” (1843).