Nelayan dan Jin dalam Guci
Jin keluar dari guci di hadapan si nelayan, ilustrasi William Harvey untuk Seribu Satu Malam. Gambar: William Harvey (1796–1866) · Public domain · sumber
Seorang nelayan tua hidup bersama istri dan tiga anaknya dalam kemiskinan. Ia punya satu aturan untuk dirinya sendiri: setiap hari ia hanya menebar jala empat kali, tidak lebih. Berapa pun yang didapat, itulah rezeki hari itu.
Suatu siang ia menebar jala pertama. Jala terasa berat. Dengan penuh harap ia menariknya ke darat, dan yang ia temukan adalah bangkai keledai yang merobek jalanya. Ia memperbaiki jala itu dan menebarnya lagi. Kali ini yang terangkat adalah kendi tanah penuh pasir dan lumpur. Yang ketiga, pecahan tembikar dan kaca.
Tinggal satu kesempatan. Nelayan itu menengadah, berdoa, dan menebar jala untuk terakhir kalinya. Jala itu kembali terasa berat. Di dalamnya ada sebuah guci tembaga, tertutup rapat dengan lapisan timah yang bercap segel Nabi Sulaiman.
Ia gembira. Di pasar tembaga, guci itu bisa laku sepuluh dinar. Namun guci itu berat, dan ia ingin tahu isinya. Ia mengambil pisau, mencungkil segel timah itu, dan memiringkan guci. Tak ada yang keluar. Lalu perlahan asap mengepul, naik sampai ke langit, menyebar di atas laut, dan berkumpul membentuk seorang ifrit yang amat besar. Kepalanya di awan, kakinya di tanah.
“Bergembiralah, wahai nelayan,” kata jin itu, “karena kamu akan mati hari ini. Pilihlah sendiri caranya.”
Nelayan itu nyaris pingsan. “Mengapa? Aku yang membebaskanmu!”
Jin itu menjelaskan. Ia dimasukkan ke dalam guci dan dibuang ke laut karena membangkang. Seratus tahun pertama ia bersumpah, siapa pun yang membebaskannya akan ia jadikan kaya selamanya. Tak ada yang datang. Seratus tahun berikutnya ia bersumpah akan membukakan semua harta bumi. Tetap tak ada yang datang. Setelah empat ratus tahun berlalu, ia berjanji mengabulkan tiga permintaan. Tetap tak ada. Akhirnya amarahnya memuncak, dan ia bersumpah membunuh siapa pun yang membebaskannya, hanya dengan membiarkannya memilih cara matinya.
Nelayan itu sadar, tenaganya tak ada artinya. Yang ia punya hanya akal.
“Baiklah,” katanya. “Sebelum mati, aku minta satu hal. Demi Nama Agung, jawablah dengan jujur. Benarkah kamu tadi berada di dalam guci itu? Tubuhmu sebesar ini, dan tanganmu saja tidak muat di sana. Aku tidak percaya kalau tidak melihatnya sendiri.”
Jin yang sombong itu tersinggung. Tubuhnya berubah menjadi asap, mengecil, dan masuk ke dalam guci sampai habis.
“Sekarang percaya?” terdengar suaranya dari dalam.
Secepat kilat, nelayan itu menyambar tutup timah bersegel dan memasangnya kembali.
“Sekarang, pilihlah cara matimu sendiri,” katanya. “Aku akan melemparmu ke laut, dan membangun rumah di tepi pantai untuk memperingatkan siapa saja yang memancing di sini.”
Jin itu meratap dan memohon. Setelah ia bersumpah dengan nama Tuhan untuk tidak mencelakai, nelayan itu membukakan guci sekali lagi. Jin itu menepati janjinya, dan menunjukkan sebuah telaga yang ikannya bisa membawa rezeki bagi si nelayan. Namun itu sudah menjadi cerita yang lain.
💖 Pesan Moral
- Otak bisa mengalahkan ukuran tubuh. Nelayan itu tak punya apa pun kecuali satu pertanyaan yang tepat.
- Kesombongan membuat yang kuat mudah dipancing. Jin itu masuk ke guci sendiri hanya untuk membuktikan sesuatu.
- Amarah yang dipelihara terlalu lama membuat kita membalas pada orang yang salah. Orang yang menolong jin itu malah menjadi sasaran sumpahnya.
- Tetaplah mencoba tebaran terakhir. Rezeki nelayan itu datang pada kesempatan keempat.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Nelayan dan Jin dalam Seribu Satu Malam.