Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Gubuk yang Terbakar

2 menit baca

Gubuk sederhana di pulau terpencil yang berkabut. Gambar: LawrieM · Public domain · sumber

Kapal itu karam dalam badai, dan ketika pagi datang hanya satu orang yang masih bernapas. Ia terdampar di sebuah pulau kecil tak berpenghuni, dengan pakaian basah dan tangan penuh luka. Begitu sadar bahwa ia masih hidup, ia berlutut di pasir dan bersyukur kepada Tuhan.

Setiap hari ia berdoa agar ada yang menyelamatkannya, dan setiap hari ia memandangi laut. Cakrawala tetap kosong.

Lama-kelamaan ia mengerti bahwa ia harus bertahan dengan apa yang ada. Dari pelepah dan daun palem ia mendirikan sebuah gubuk. Ke dalamnya ia simpan semua yang berhasil dipungut dari tepi pantai: potongan tali, kotak kayu, sedikit perkakas dari kapal yang hancur. Di dekat pintu ia membuat tungku dari batu, dan apinya ia jaga dengan hati-hati, sebab api itulah satu-satunya kenyamanan yang ia punya.

Berminggu-minggu berlalu. Gubuk reyot itu pelan-pelan terasa seperti rumah.

Suatu hari ia berjalan jauh ke seberang pulau untuk mencari makanan. Dalam perjalanan pulang, angin mendadak bertiup kencang. Ia mencium bau hangus sebelum melihat apa pun. Saat ia berlari melewati tikungan pantai, tiang asap hitam sudah membubung ke langit. Angin telah menerbangkan bara dari tungku ke atap daun, dan gubuknya terbakar habis bersama semua yang ia simpan.

Ia jatuh terduduk di depan abu itu. Semua hasil kerjanya selama berminggu-minggu lenyap dalam beberapa menit. Ia menangis, lalu marah, lalu menatap langit.

“Tuhan, kenapa Engkau tega begini? Aku hanya punya itu!”

Malam terasa lama sekali. Ia tertidur di pasir dengan perut lapar dan hati yang kosong.

Beberapa jam kemudian, ia terbangun oleh suara yang sudah lama tidak ia dengar: dayung yang memukul air dan orang-orang yang berteriak. Sebuah kapal berlabuh di dekat pulau, dan sekoci sedang menuju pantai. Ia berlari menyongsongnya, tertawa dan menangis sekaligus.

Ketika sudah duduk di sekoci, ia bertanya kepada para pelaut itu, “Bagaimana kalian tahu saya ada di sini?”

Mereka memandangnya dengan heran. “Kami melihat sinyal asapmu.”

Lelaki itu menoleh ke pulau. Di kejauhan, sisa gubuknya masih mengepulkan asap tipis.

💖 Pesan Moral

  • Kita hanya melihat sepotong dari keseluruhan kisah. Hari yang terasa paling buruk kadang belum selesai berbicara.
  • Boleh menangis saat kehilangan. Lelaki itu juga marah dan putus asa. Ia tetap tertolong, sebab pertolongan tidak menunggu perasaan kita membaik.
  • Jangan terlalu erat memegang gubuk sendiri. Apa yang kita bangun untuk bertahan bisa saja menahan kita di tempat yang seharusnya kita tinggalkan.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan populer yang beredar tanpa nama pengarang; penulis aslinya tidak diketahui.