Pertanyaan Sang Yaksa di Tepi Danau
Relief Yudistira di Kuil Wisnu Deogarh, India (abad ke-6). Gambar: Flickr user Vaticanus · CC BY 2.0 · sumber
Pada masa pengasingan di hutan, kelima Pandawa suatu hari kelelahan dan kehausan setelah mengejar seekor kijang. Yudistira, yang tertua, duduk di bawah pohon dan meminta adik bungsunya, Nakula, memanjat untuk mencari sumber air.
Nakula menemukan sebuah danau yang jernih tidak jauh dari sana. Ketika ia berlutut hendak minum, terdengar sebuah suara dari seekor bangau di tepi danau. “Jangan minum dulu, anak muda. Danau ini milikku. Jawablah pertanyaanku, baru engkau boleh minum.”
Nakula terlalu haus untuk peduli. Ia meminum airnya, dan seketika itu juga ia jatuh tak bernyawa. Hal yang sama menimpa Sadewa, lalu Arjuna, lalu Bima. Masing-masing datang mencari saudaranya, mendengar peringatan itu, mengabaikannya, dan jatuh di tepi danau.
Akhirnya Yudistira sendiri datang. Hatinya hancur melihat keempat adiknya terbaring di sana. Suara itu kembali terdengar, kali ini dari sesosok yaksa, makhluk gaib penjaga danau. “Aku telah memperingatkan mereka. Jika engkau juga minum tanpa menjawab pertanyaanku, nasibmu akan sama.”
Yudistira menahan dahaga dan dukanya. “Aku tidak akan mengambil apa yang menjadi milikmu. Tanyakanlah, aku akan menjawab sebisaku.”
Maka sang yaksa mengajukan pertanyaan demi pertanyaan.
“Apa yang lebih berat daripada bumi?” “Seorang ibu.” “Apa yang lebih tinggi daripada langit?” “Seorang ayah.” “Apa yang lebih cepat daripada angin?” “Pikiran.” “Apa yang lebih banyak daripada rumput?” “Kecemasan.”
“Siapakah sahabat orang yang bepergian? Siapakah sahabat orang yang sakit?” “Teman seperjalanan adalah sahabat pengembara. Tabib adalah sahabat orang sakit.”
“Apa yang, bila ditinggalkan, membuat orang disukai? Apa yang, bila ditinggalkan, membuat orang tidak bersedih?” “Kesombongan. Dan amarah.”
Lalu yaksa itu bertanya, “Apakah hal yang paling menakjubkan di dunia ini?”
Yudistira menjawab, “Setiap hari makhluk-makhluk tak terhitung jumlahnya pergi menuju kematian. Namun mereka yang masih hidup bertingkah seolah-olah akan hidup selamanya. Apa lagi yang lebih menakjubkan daripada itu?”
Sang yaksa puas. “Engkau telah menjawab dengan baik. Aku akan menghidupkan kembali satu dari saudaramu. Pilihlah.”
Tanpa ragu Yudistira memilih Nakula. Yaksa itu heran. “Mengapa bukan Bima yang perkasa, atau Arjuna sang pemanah, saudara kandungmu sendiri?”
“Ayahku punya dua istri, Kunti dan Madri. Aku putra Kunti, dan aku masih hidup. Nakula adalah putra Madri. Biarlah kedua ibu itu sama-sama memiliki seorang putra yang hidup.”
Mendengar jawaban itu, sang yaksa menampakkan wujud aslinya: Dewa Dharma, ayah Yudistira sendiri. Karena keadilan dan kebijaksanaan putranya, ia menghidupkan kembali keempat Pandawa.
💖 Pesan Moral
- Hidup ini singkat, tetapi kita sering lupa. Kesadaran itu membantu kita menata apa yang benar-benar penting.
- Kesabaran dan kerendahan hati menyelamatkan, sementara tergesa-gesa membawa celaka.
- Keadilan sejati berlaku juga saat kita sendiri yang dirugikan, seperti pilihan Yudistira untuk Nakula.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari episode Yaksha Prashna (“pertanyaan sang yaksa”) dalam Wana Parwa, kitab ketiga Mahabharata. Hanya sebagian pertanyaan yang dikutip di sini.