Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Putri Karang Melenu

3 menit baca

Lembuswana, makhluk dalam tradisi Kutai yang erat dengan kisah Putri Karang Melenu. Gambar: Marwan Mohamad · CC BY-SA 4.0 · sumber

Di tepi Sungai Mahakam, seorang penebang kayu sudah mengangkat kapaknya tinggi-tinggi ketika matanya menangkap sesuatu yang bergerak di batang pohon. Seekor ular kecil melingkar di sana, gemetar menatap mata kapak. Sedikit saja terlambat, tubuhnya akan terbelah.

Lelaki itu menurunkan kapaknya. Ular kecil itu ia ambil dengan hati-hati lalu ditunjukkan kepada istrinya, Babu Jaruma. Sudah lama mereka menikah dan belum juga dikaruniai anak.

“Bagaimana kalau kita bawa pulang?” tanyanya.

Istrinya mengangguk. Maka sejak hari itu, ular kecil tersebut tinggal di rumah mereka di Kampung Melanti. Tetangga mungkin menggeleng-geleng, tetapi pasangan itu merawatnya seperti merawat anak sendiri. Makanan terbaik selalu disisihkan untuknya.

Bulan berganti tahun. Ular itu tumbuh dan terus tumbuh, sampai suatu ketika rumah kecil itu tidak lagi muat menampungnya. Ia telah menjadi naga. Namun ia tetap jinak, bahkan membantu pekerjaan orang tua angkatnya sehari-hari.

Pada suatu malam, sang suami bermimpi didatangi seorang gadis berparas lembut.

“Akulah naga yang Ayah pelihara,” kata gadis itu. “Sudah waktunya aku turun ke sungai. Buatkan tangga dari rumah sampai ke tepi air. Bakarlah wijen hitam, taburkan beras kuning ke tubuhku, dan ikutilah ke mana pun aku berenang.”

Pagi harinya ia menceritakan mimpi itu kepada istrinya dengan suara berat. Bagi mereka berdua, naga itu adalah anak satu-satunya. Tetapi mereka tahu, menyayangi juga berarti melepas. Sang suami membelah bambu dan membuat tangga panjang menuju Sungai Mahakam.

Naga itu merayap turun perlahan. Setibanya di air, ia berenang ke hulu lalu ke hilir, tujuh kali bolak-balik, sementara pasangan tua itu mengiringinya dengan perahu sambil menabur beras kuning. Pada kali yang ketujuh, ia menyelam dan menghilang.

Langit mendadak gelap. Hujan dan badai mengamuk di atas sungai. Keduanya berpegangan erat di perahu, mengira segalanya sudah berakhir.

Lalu, secepat datangnya, badai itu reda. Permukaan sungai kembali tenang, dan dari dasar air perlahan muncul sebuah gentong yang mengapung. Saat mereka mendekat, terdengar suara yang tidak pernah mereka dengar di rumah mereka sendiri: tangis bayi.

Di dalam gentong itu terbaring seorang bayi perempuan yang cantik. Dengan tangan bergetar, Babu Jaruma mengangkatnya ke pelukan. Bertahun-tahun mereka menyayangi seekor makhluk yang tidak bisa memanggil mereka ayah dan ibu. Kini mereka mendapat seorang anak.

Bayi itu diberi nama Putri Karang Melenu. Ketika dewasa, ia menikah dengan Aji Batara Agung Dewa Sakti, raja pertama Kutai Kartanegara, dan menurunkan raja-raja berikutnya.

Orang Kutai belum melupakan kisah ini. Dalam pesta adat Erau di Tenggarong, sepasang naga buatan masih diarak dan diturunkan ke Sungai Mahakam, seakan mengulang perpisahan di atas tangga bambu itu.

💖 Pesan Moral

  • Kebaikan kecil bisa mengubah seluruh hidup. Semuanya bermula dari sebuah kapak yang tidak jadi diayunkan.
  • Merawat tidak selalu butuh alasan yang masuk akal. Pasangan itu mengasihi makhluk yang orang lain mungkin takuti.
  • Menyayangi juga berarti rela melepas. Anugerah terbesar mereka datang tepat setelah mereka mengizinkan si naga pergi.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi legenda Kutai, Kalimantan Timur, yang berkaitan dengan asal-usul raja Kutai Kartanegara dan upacara Erau.