Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Musa dan Sang Penggembala

3 menit baca

Penggembala tua dan kambing-kambingnya, lukisan Mu'in Musavvir dari Isfahan, 1676. Gambar: Mu'in Musavvir · Public domain · sumber

Di sebuah jalan sepi, menurut gubahan Jalaluddin Rumi, Nabi Musa mendengar suara orang berdoa. Suara itu datang dari seorang penggembala sederhana yang duduk bersama kambing-kambingnya, dan kata-katanya sungguh tidak biasa.

Si penggembala bertanya kepada Tuhan di mana Dia berada, sebab ia ingin menjadi pelayan-Nya. Ia ingin menjahitkan sepatu-Nya dan menyisir rambut-Nya. Ia ingin mencuci pakaian-Nya dan membawakan susu untuk-Nya. Bila malam tiba, ia ingin membersihkan tempat tidur-Nya. Semua kambingnya rela ia korbankan untuk-Nya.

Musa berhenti, tidak percaya pada telinganya sendiri.

“Hai kawan, kepada siapa kamu berbicara?”

“Kepada Dia yang menciptakan kita, yang menghadirkan bumi dan langit ini,” jawab si penggembala.

Musa pun murka. Apa-apaan ocehan ini, katanya. Sepatu dan kaus kaki pantas untuk manusia. Bagaimana mungkin hal seperti itu dikatakan kepada Yang Maha Suci? Lebih baik mulut itu disumpal daripada mengucapkan kata-kata seperti itu.

Penggembala itu terdiam. Wajahnya pucat. Selama ini ia mengira sedang menyenangkan Tuhannya, dan ternyata, kata utusan Tuhan, ia telah menghina-Nya.

“Wahai Musa, engkau telah menutup mulutku dan membakar jiwaku dengan penyesalan,” katanya.

Ia merobek bajunya, menghela napas panjang, lalu berjalan pergi ke padang tandus.

Dalam kisah gubahan Rumi, teguran justru datang kepada Musa. Allah mewahyukan kepadanya bahwa ia telah memisahkan seorang hamba dari Tuhannya, padahal ia diutus untuk mempertemukan, bukan untuk memisahkan. Setiap orang diberi cara berbicaranya sendiri. Yang terpuji bagi yang satu bisa tercela bagi yang lain. Yang dilihat Allah adalah hati, bukan susunan kata. Yang diharapkan dari orang yang mencinta adalah kerinduannya.

Mendengar itu, Musa segera berlari ke padang tandus. Ia menelusuri jejak si penggembala, jejak yang tak beraturan seperti langkah orang yang kehilangan akal, kadang lurus, kadang menyerong. Akhirnya ia menemukannya.

“Kabar gembira!” serunya. “Izin telah datang. Jangan mencari aturan dan tata cara. Katakan apa saja yang diinginkan hatimu yang gelisah.”

Penggembala itu memandangnya dengan mata yang sudah lain. Ia berkata bahwa ia sudah melewati tahap itu. Cambuk teguran Musa telah mendorongnya melompat jauh melampaui keadaannya semula, dan keadaan barunya kini tak lagi bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

💖 Pesan Moral

  • Ketulusan yang belum pandai berkata-kata tetap ketulusan. Banyak doa orang sederhana lebih jujur daripada doa yang tersusun rapi.
  • Berhati-hatilah ketika mengoreksi orang lain. Tujuan meluruskan bisa rusak bila caranya mematahkan semangat.
  • Orang yang berilmu pun perlu berani menarik ucapannya. Dalam kisah ini, Musa berlari mencari orang yang telah ia tegur.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah dalam Masnavi karya Jalaluddin Rumi, buku kedua. Ini kisah gubahan sang penyair, bukan riwayat dari Al-Qur’an atau hadis.