Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Sepuluh Gambar Menggembala Sapi

3 menit baca

Gambar keenam dan ketujuh pada gulungan karya Karasumaru Mitsuhiro, koleksi Metropolitan Museum of Art. Gambar: Creator:Karasumaru Mitsuhiro · CC0 · sumber

Seorang penggembala muda kehilangan sapinya. Ia berjalan menyusuri tepi sungai dan menembus semak-semak, sampai lelah dan tak tahu lagi harus ke mana. Hanya suara jangkrik yang menjawabnya.

Begitulah gambar pertama dari sepuluh gambar yang diwariskan tradisi Zen. Pada abad ke-12, di masa Dinasti Song di Tiongkok, seorang guru Chan bernama Kuoan Shiyuan menyusun rangkaian gambar ini beserta syair dan kata pengantarnya. Sejak itu para pelukis di Tiongkok, Korea, dan Jepang menggambarnya berulang kali, biasanya di dalam lingkaran. Sapi itu melambangkan hakikat diri yang sejati, dan penggembala adalah siapa saja yang mencarinya.

Pada gambar kedua, si penggembala menemukan jejak kaki di tanah. Ia belum melihat sapinya, tetapi kini tahu bahwa yang ia cari memang ada. Dalam tafsir tradisi, inilah saat orang mulai mengenal jalan dari ajaran dan buku-buku.

Gambar ketiga memperlihatkan sapi itu, atau sebagian tubuhnya, di balik pepohonan. Untuk pertama kalinya ia melihat dengan mata sendiri, dan bukan sekadar mendengar dari orang lain.

Gambar keempat adalah pergulatan. Ia berhasil menangkap sapi itu dengan tali, tetapi hewan itu liar dan terus menarik ke arah padang. Menemukan ternyata lebih mudah daripada memegang.

Pada gambar kelima, sapi itu mulai berjalan tenang, dituntun oleh penggembala dengan tali yang tak perlu ditarik keras. Inilah masa latihan yang panjang, ketika kebiasaan lama pelan-pelan melunak dan pikiran tidak lagi lari setiap kali ada godaan.

Pada gambar keenam, si penggembala menunggang sapinya pulang sambil meniup seruling. Talinya longgar. Ia tak perlu lagi mengendalikan apa pun. Lagunya terdengar sampai ke kejauhan.

Gambar ketujuh mengejutkan. Penggembala sudah sampai di rumah, duduk santai, dan sapinya tak ada lagi. Sapi itu hanya alat untuk pulang, seperti rakit yang tak perlu dipikul lagi setelah sampai di seberang.

Gambar kedelapan hanya berupa lingkaran kosong. Tak ada penggembala, tak ada sapi. Bahkan gagasan tentang “aku yang telah mencapai sesuatu” pun sudah lepas.

Banyak orang mengira di sinilah puncaknya. Ternyata masih ada dua gambar lagi.

Gambar kesembilan menampilkan sungai yang mengalir dan bunga merah yang mekar, tanpa satu pun manusia. Dunia kembali terlihat sebagaimana adanya, tanpa tambahan apa-apa. Air tetap air, bunga tetap bunga.

Gambar kesepuluh menutup seluruh rangkaian dengan pemandangan yang sederhana. Seorang lelaki bertubuh gemuk berjalan masuk ke pasar dengan tangan terbuka, membawa buntalan, sering kali digambarkan tersenyum. Ia tidak berjubah mewah dan tidak mengaku sudah mencapai apa-apa. Ia bergaul dengan pedagang dan orang-orang biasa, dan orang yang dekat dengannya merasa lebih ringan tanpa tahu sebabnya.

Jadi perjalanan panjang itu berakhir di tempat yang paling ramai, di tengah orang banyak. Pencarian yang dimulai dengan seorang diri di tepi sungai ditutup dengan kehadiran di antara sesama.

💖 Pesan Moral

  • Mengenal diri adalah perjalanan bertahap. Ada masa mencari, masa bergulat, dan masa tenang, dan semuanya perlu dilalui.
  • Jangan terikat pada alat. Metode, gelar, dan pencapaian sebaiknya dilepas setelah tugasnya selesai.
  • Waspadai rasa “sudah sampai”. Lingkaran kosong pun masih harus dilanjutkan.
  • Kebijaksanaan yang matang kembali ke tengah orang banyak. Ukurannya terlihat dari cara kita hadir bagi sesama.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari rangkaian Sepuluh Gambar Menggembala Sapi karya guru Chan Kuoan Shiyuan (Kuo-an Shih-yuan, abad ke-12, Tiongkok). Tafsir gambar berbeda antarguru; uraian di atas salah satu versi.