Pak Pandir Membawa Kerbau
Inilah kerbau yang sebenarnya, sedang meragut rumput di sawah. Berkaki empat, bertanduk dua. Gambar: udeyismail · CC BY-SA 2.0 · sumber
Di sebuah hutan, tersebutlah sepasang suami istri yang miskin, Pak Pandir dan Mak Andeh. Pekerjaan Pak Pandir bercocok tanam, dan kebodohannya sudah menjadi cerita di mana-mana. Mak Andeh sudah lama berhenti heran.
Suatu malam, Mak Andeh menghitung uang simpanan mereka. Mereka akan mengadakan kenduri, dan kenduri perlu lauk. Ia menyerahkan empat puluh rial kepada suaminya.
“Esok, pergilah awak membeli kerbau.”
Pak Pandir mengangguk, lalu berpikir. “Bagaimana rupa kerbau itu, Andeh?”
Mak Andeh, yang sudah mengantuk, menjawab pendek. “Yang meragut-ragut rumput itulah kerbau.”
“Baiklah, Andeh.”
Pagi-pagi Pak Pandir berangkat sambil menggenggam uangnya. Ia masuk hutan keluar hutan, masuk rimba keluar rimba, sambil mengulang-ulang di dalam hati: yang meragut rumput, yang meragut rumput. Sampailah ia di sebuah ladang padi. Di situ ada seorang perempuan tua yang sedang merumput dengan keri, sabit kecil yang tajam. Srek, srek, srek, keri itu memotong rumput.
Pak Pandir berhenti. Matanya bersinar. Inilah dia!
“Hai Emak, mahukah menjual kerbau yang dipegang itu?”
Perempuan tua itu menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari kerbau yang dimaksud. Ia tak melihat apa-apa. “Sahaya tidak hendak menjualnya,” katanya dengan bingung, sambil memandang keri di tangannya. “Sahaya memakainya sendiri.”
“Juallah, biar sahaya membelinya. Nah, ini uangnya, empat puluh rial.”
Pak Pandir meletakkan uang itu di depan si nenek dan mengambil kerinya. Perempuan tua itu memandangi empat puluh rial di tanah. Ia terdiam dan tak berkata apa-apa lagi. Tak setiap hari ada orang membeli sabit seharga seekor kerbau.
Pak Pandir mengikat tali pada hulu keri itu dan menyeretnya pulang dengan gembira. Sepanjang jalan, keri itu melompat-lompat di belakangnya, dan mata sabitnya berkali-kali mengenai betisnya.
“Aduh!” serunya. “Bedebah kerbau ini, bengis sekali! Kaki orang pun ditanduknya!”
Ia terus menyeret, terus tertanduk, sampai tiba di rumah dengan betis berdarah-darah.
“Andeh! Nah, kerbau Andeh!”
“Tambatkanlah dulu di tempat yang berumput,” sahut Mak Andeh dari dapur.
Pak Pandir mengikatkan keri itu pada serumpun rumput, lalu naik ke rumah sambil mengomel dan menunjukkan kakinya. Mak Andeh melihat luka itu dan keheranan, sebab luka itu lebih mirip kena parang. Ia turun untuk melihat kerbaunya. Ia mencari ke sana kemari, ke belakang rumah, ke tepi kebun, dan tak menemukan apa-apa.
“Di mana kautambatkan kerbau itu? Penat aku mencari!”
“Nanti dulu, aku tengah makan,” kata Pak Pandir. Selesai makan, ia turun dengan langkah tenang dan menunjuk ke rumput.
“Ini apa, Andeh? Bukankah kerbau? Mata Andeh seperti orang buta saja.”
Mak Andeh membungkuk, mengintip, dan terus mengintip. Pak Pandir menarik talinya, dan keri itu terangkat dari rumput.
Kata-kata yang keluar dari mulut Mak Andeh sesudah itu tak perlu dituliskan. Terdengar sampai ke seberang hutan. Setelah reda, ia menyuruh Pak Pandir mengembalikan keri itu dan meminta kerbau yang sebenarnya, “yang kakinya empat, tanduknya dua!”
Pak Pandir pun kembali menemui perempuan tua itu. “Hai Emak, ambillah balik kerbau ini. Kata Andeh, ia minta yang bertanduk dan berkaki, lagi hidup.”
Perempuan tua itu tercengang. Barulah ia sadar siapa yang sedang ia hadapi: inilah rupanya Pak Pandir yang terkenal itu. Ia menyuruhnya menunggu, pulang ke kampung, mengambil seekor kerbau betulan, dan menyerahkannya. Kali ini Pak Pandir berjalan pulang sambil bersiul. Kakinya tak tertanduk sedikit pun, dan ia merasa kerbau ini jauh lebih jinak daripada yang pertama.
💖 Pesan Moral
- Berilah petunjuk yang lengkap. “Yang meragut rumput” bisa berarti banyak hal bagi orang yang tak punya bayangan.
- Kalau belum paham, bertanyalah sampai jelas. Satu pertanyaan lagi di awal bisa menghemat dua kali perjalanan dan sepasang betis.
- Orang jujur tak memanfaatkan kebodohan orang lain. Nenek itu punya kesempatan, dan ia memilih menyerahkan kerbau.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita jenaka Melayu tentang Pak Pandir, yang dibukukan R.O. Winstedt dan A.J. Sturrock dalam Cherita Jenaka (1908). Dalam kisah aslinya, kenduri itu diadakan untuk mengenang anak mereka.