Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Abu Nawas Membagi Hadiah dengan Penjaga

3 menit baca

Khalifah Harun Al-Rasyid, sosok yang dalam kisah ini memberi Abu Nawas "hadiah" yang ia minta. Gambar: Tidak diketahui (Safawi, Iran, akhir abad ke-16) · Public domain · sumber

Suatu hari, Abu Nawas mendapat kabar bahwa Khalifah Harun Al-Rasyid ingin bertemu dengannya. Rupanya sang khalifah sedang gembira karena syair yang dibuat Abu Nawas untuk pesta istana sangat disukai para tamu. Ia ingin memberi hadiah.

Namun, untuk bisa masuk ke ruang khalifah, Abu Nawas harus melewati seorang penjaga gerbang yang terkenal serakah. Penjaga itu menghadangnya di pintu.

“Aku tahu kau akan menerima hadiah dari Baginda,” bisik si penjaga. “Aku akan membiarkanmu masuk, asalkan kau berjanji memberikan separuh dari hadiahmu kepadaku.”

Abu Nawas menatap penjaga itu sejenak, lalu tersenyum. “Baiklah. Aku berjanji. Separuh hadiahku untukmu.”

Di dalam ruangan, khalifah menyambut Abu Nawas dengan ramah. “Abu Nawas, syairmu membuat pestaku sempurna. Mintalah hadiah apa saja yang kau mau.”

Abu Nawas membungkuk dalam-dalam. “Paduka, hamba hanya meminta satu hal: pukullah hamba seratus kali dengan rotan.”

Seluruh ruangan terkejut. Khalifah mengerutkan dahi. “Apa maksudmu? Aku ingin memberimu hadiah, bukan hukuman!”

“Hamba mohon, Paduka. Hanya itu hadiah yang hamba inginkan.”

Dengan heran, khalifah memerintahkan seorang pengawal mengambil rotan. Setelah lima puluh pukulan yang dilakukan dengan pelan, Abu Nawas tiba-tiba mengangkat tangan.

“Cukup, Paduka! Sisa lima puluh pukulan itu bukan hak hamba lagi. Hamba sudah berjanji kepada penjaga gerbang Paduka bahwa separuh hadiah hamba akan menjadi miliknya. Dia sendiri yang memintanya sebagai syarat agar hamba boleh masuk.”

Khalifah langsung memahami semuanya. Wajahnya memerah karena marah. Ia memanggil penjaga itu, dan si penjaga menerima lima puluh pukulan yang menjadi “bagiannya”. Ia juga dicopot dari jabatannya karena telah memeras orang-orang yang hendak menghadap khalifah.

Setelah itu, khalifah tertawa dan memberikan hadiah sesungguhnya kepada Abu Nawas: sekantong uang emas. Kali ini tidak ada lagi yang berani meminta bagian.

Kisah ini menunjukkan bahwa keserakahan sering menjebak dirinya sendiri. Orang yang ingin menikmati hasil jerih payah orang lain tanpa bekerja, cepat atau lambat akan menerima “bagian” yang tidak ia harapkan.

Abu Nawas juga menunjukkan bahwa menghadapi ketidakadilan tidak selalu harus dengan kemarahan atau perkelahian. Ia memegang janjinya secara harfiah, dan dengan begitu, kebohongan dan keserakahan si penjaga terbongkar dengan sendirinya di hadapan orang yang tepat. Kadang, cara paling ampuh melawan orang curang adalah membiarkan kecurangannya terlihat terang benderang.

Dan bagi kita semua, kisah ini adalah pengingat sederhana: berhati-hatilah dengan apa yang kita minta dari orang lain.

💖 Pesan Moral

  • Keserakahan menjebak pelakunya sendiri. Jangan meminta bagian dari sesuatu yang bukan hasil kerja kita.
  • Kecerdikan bisa mengungkap ketidakadilan tanpa harus bertengkar.
  • Penyalahgunaan jabatan untuk memeras orang lain pada akhirnya akan terbongkar.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah jenaka populer tentang Abu Nawas dan Khalifah Harun Al-Rasyid. Tokoh Abu Nawas terinspirasi penyair Baghdad abad ke-8, tetapi kisah-kisah lucunya adalah cerita rakyat; anekdot serupa juga dikenal dalam tradisi Eropa dan Asia lainnya.