Kabayan Mencari Tutut
Sawah berair yang memantulkan langit, seperti yang membuat Kabayan takut tenggelam. Gambar: Basile Morin · CC BY-SA 4.0 · sumber
Sejak subuh Nyi Iteung sudah bangun. Ia menanak nasi, menyapu halaman, dan mencuci pakaian. Saat matahari sudah tinggi, ia melongok ke kamar. Si Kabayan masih tidur dengan mulut sedikit terbuka. Dari senyumnya, jelas ia sedang bermimpi makan ikan kancra besar.
“Kang! Kang Kabayan! Bangun, sudah siang!”
“Hmm? Ikannya sudah matang?”
“Ikan apa? Di dapur tidak ada lauk sama sekali. Sana, cari tutut di sawah. Hari ini kita makan tutut.”
Kabayan bangun dengan berat hati. Ia mengambil keranjang kecil dan sebatang bambu panjang, lalu berjalan ke sawah. Sawah itu baru saja digenangi air, dan pagi itu langit biru terpantul sangat jelas di permukaannya, lengkap dengan awan yang bergerak pelan. Bagi Kabayan, pemandangan itu sungguh indah untuk dinikmati sambil duduk.
Maka ia pun duduk di pematang. Bambunya ia julurkan ke sawah, lalu ia menusuk-nusuk air dari tempat duduknya, seperti orang memancing tanpa kail. Kakinya tetap kering. Keranjangnya tetap kosong.
Tidak lama kemudian Nyi Iteung datang mengantar air minum. Ia berhenti di ujung pematang dan memandangi suaminya dengan mata menyipit.
“Akang sedang apa?”
“Mencari tutut, Nyi.”
“Mencari tutut kok dari pinggir? Turun ke sawah, dong!”
Kabayan menoleh dengan wajah sangat serius, lalu menunjuk ke air.
“Tidak bisa, Nyi. Berbahaya sekali. Coba lihat. Airnya dalam sekali. Langit saja kelihatan di dasarnya, berikut awan-awannya. Kalau Akang turun, bisa-bisa tenggelam sampai ke langit. Kamu mau jadi janda?”
Nyi Iteung memandang sawah itu. Lalu ia memandang suaminya. Ia meletakkan kendi air di pematang dengan sangat hati-hati, berjalan mendekat, dan tanpa berkata apa-apa mendorong punggung Kabayan.
Byur!
Kabayan tercebur sambil berteriak. Tangannya menggapai-gapai, lalu kakinya menyentuh lumpur. Ia berhenti berteriak. Pelan-pelan ia berdiri. Air sawah hanya sampai ke betisnya. Ia memandang ke bawah, lalu mengangkat wajahnya yang penuh cipratan lumpur.
“Eh, kok dangkal?”
Nyi Iteung sudah berjalan pulang. Kabayan merasa air itu ternyata sejuk, jadi ia duduk saja di sana, berendam dengan nyaman seperti raja.
“Beres, Tuan Putri!” serunya. “Akang sudah turun!”
Tanpa menoleh, Nyi Iteung menjawab, “Jangan lupa tututnya, Kang!”
💖 Pesan Moral
- Yang kelihatan dalam belum tentu dalam. Banyak pekerjaan terasa mustahil hanya sampai kita berani mencelupkan kaki.
- Alasan yang pandai tidak akan mengisi keranjang. Lauk di meja tetap harus dicari dengan turun ke lumpur.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari cerita rakyat Sunda tentang Si Kabayan, salah satu versi.