Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Trạng Quỳnh dan Hidangan Tunas Batu

3 menit baca

Pernikahan Tikus, lukisan rakyat Dong Ho yang menyindir pejabat dengan jenaka, sejiwa dengan humor Trạng Quỳnh. Gambar: Daderot · CC0 · sumber

Penguasa negeri, Chúa Trịnh, punya segalanya, kecuali selera makan. Istananya penuh juru masak, mejanya penuh burung panggang dan sup sarang burung, tetapi ia sudah bosan dengan semuanya. Setiap hidangan disentuh sedikit, lalu didorong menjauh. Suatu hari, dalam keadaan murung, ia memanggil Trạng Quỳnh, orang pandai yang terkenal suka membuat penguasa tersenyum sekaligus cemberut.

“Quỳnh, aku sudah mencicipi semua yang lezat di negeri ini. Tak ada lagi yang enak. Apa kau tahu hidangan yang belum pernah kumakan?”

Quỳnh menunduk hormat, dan wajahnya sangat serius.

“Ada, Tuanku. Hidangan langka yang disebut mầm đá, tunas batu.”

Chúa Trịnh menegakkan duduknya. Tunas batu! Ia belum pernah mendengarnya. Ia langsung ingin mencicipi. Quỳnh dengan senang hati menyanggupi, tetapi hidangan ini, katanya, memerlukan kesabaran dan harus dimasak sendiri olehnya.

Maka pada pagi buta, Quỳnh menyuruh orang mengambil batu dari gunung dan membawanya ke dapur istana. Batu-batu itu direbus dalam kuali besar. Ia juga membawa sebuah guci kecil yang ditutup rapat, disimpan di sudut, bertuliskan dua huruf besar: đại phong, “angin besar”.

Matahari mulai tinggi. Chúa Trịnh menunggu. Ia bertanya kepada pelayan, dan jawabannya: tunas batu belum empuk. Tengah hari berlalu. Ia bertanya lagi. Belum. Perutnya mulai bersuara. Bagi seorang penguasa yang tak pernah sekali pun menunggu makanan, ini pengalaman yang asing. Quỳnh sesekali datang, mengaduk kuali itu dengan penuh perhatian, dan menggeleng.

Sore hari tiba. Penguasa negeri duduk lemas, dan pandangannya mulai berkunang-kunang.

“Quỳnh! Sudah matang belum?!”

“Tunas batu perlu dimasak lebih lama lagi, Tuanku. Untuk sementara, mungkin Tuanku berkenan mencicipi hidangan pembuka, seadanya. Namanya đại phong.”

Quỳnh menghidangkan semangkuk nasi putih biasa dan isi guci itu. Chúa Trịnh menyantapnya tanpa bertanya. Nasi itu hilang dalam sekejap, disusul mangkuk kedua dan ketiga. Ia bersandar dan menghela napas lega.

“Luar biasa! Ini hidangan paling lezat yang pernah kumakan! Apa sebenarnya đại phong itu?”

Quỳnh menjawab dengan permainan kata yang hanya bisa lahir dari bahasa Vietnam. Đại phong berarti angin besar. Angin besar merobohkan kuil. Kuil roboh, patung-patungnya gelisah, atau dalam bahasa Vietnam tượng lo. Dibalik sedikit, kata itu menjadi lọ tương, guci tauco.

Chúa Trịnh terdiam, lalu mengerti. Hidangan paling lezat di dunia ternyata hanya nasi dan tauco, dimakan oleh orang yang sungguh-sungguh lapar.

“Dan tunas batunya?”

“Ah,” kata Quỳnh. “Itu, Tuanku, masih belum empuk.”

💖 Pesan Moral

  • Lapar adalah bumbu terbaik. Makanan biasa terasa istimewa setelah kita benar-benar memerlukannya.
  • Kelimpahan bisa mematikan rasa syukur. Penguasa yang punya segalanya justru kehilangan kenikmatan paling sederhana.
  • Kritik yang disampaikan dengan humor lebih mudah ditelan. Quỳnh menegur atasannya tanpa bisa dihukum.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi anekdot Vietnam “Ăn mầm đá” tentang Trạng Quỳnh, tokoh jenaka yang dalam tradisi rakyat dikaitkan dengan sarjana Nguyễn Quỳnh.