Gudang Inspirasi Hidup
Humor

Afanti Membeli Keteduhan

3 menit baca

Patung Afanti dan keledainya di Urumqi, Xinjiang. Gambar: jun jin luo · CC BY 3.0 · sumber

Musim panas di tepi gurun Taklamakan tidak mengenal ampun. Tanah berdebu, langit putih, dan satu-satunya tempat yang nyaman di seluruh kampung adalah bawah pohon besar di depan rumah Tuan Bay, tuan tanah yang kaya raya. Pohon itu sudah berdiri sebelum kakek siapa pun lahir, dan para petani yang pulang dari ladang biasa melepas lelah di bawahnya.

Tuan Bay baru saja mendapat ide yang menurutnya cemerlang. Pohon itu tumbuh di tanahnya, jadi keteduhannya miliknya. Pagi itu ia berdiri di bawah pohon sambil berkacak pinggang dan mengumumkan bahwa siapa pun yang ingin berteduh harus membayar.

Para petani, yang tak punya uang, pindah berdiri di bawah terik. Ada seorang nenek yang menawarkan semangkuk susu kambing sebagai pengganti, dan Tuan Bay hampir saja mengambilnya.

Tepat saat itu, seekor keledai kecil datang dari ujung jalan. Di punggungnya duduk seorang lelaki berjanggut dengan sorban miring. Afanti turun, melihat keadaan, dan menggaruk janggutnya.

“Tuan Bay, apakah benar keteduhan ini dijual?”

“Benar. Mau bayar berapa?”

“Saya tidak mau menyewa. Saya mau membeli seluruhnya, untuk selamanya.”

Tuan Bay hampir tersedak. Orang ini ternyata lebih bodoh daripada yang ia duga. Ia menyebut harga yang tidak masuk akal. Afanti mengeluarkan kantong berisi tabungannya, dan uang sumbangan para tetangga, lalu menghitung di depan semua orang. Mereka membuat perjanjian di hadapan saksi: keteduhan pohon itu, ke mana pun ia jatuh, menjadi milik Afanti dan keturunannya.

Tuan Bay masuk ke rumah sambil tertawa dan mencium kantong uang itu. Di luar, para petani menatap Afanti dengan iba.

“Sabar,” kata Afanti. “Duduklah di tempat teduh milik saya. Gratis.”

Matahari bergerak ke barat, dan bayangan pohon ikut bergerak. Sore itu keteduhan merambat ke halaman Tuan Bay. Afanti dan para petani ikut pindah. Bayangan menyentuh dinding rumah. Lalu lewat pintu yang terbuka, ia merayap masuk ke ruang tamu yang berlapis karpet tebal.

Tuan Bay sedang berbaring di bantalnya ketika ia mendengar langkah kaki. Afanti melangkah masuk, diikuti tiga puluh petani berdebu, dua ekor kambing, dan seekor keledai. Mereka duduk di atas karpetnya.

“Apa-apaan ini?! Keluar!”

“Maaf, Tuan,” kata Afanti sambil membuka bekalnya. “Kami duduk di keteduhan milik kami. Ada perjanjiannya. Teruskan saja tidur Tuan.”

Besok sorenya mereka datang lagi, dan membawa lebih banyak kambing. Besoknya lagi, keteduhan itu jatuh tepat di atas pesta yang diadakan Tuan Bay untuk tamu-tamu terhormat. Keledai Afanti masuk lebih dulu.

Pada hari keempat, Tuan Bay muncul di depan rumah Afanti dengan wajah pucat, memohon agar perjanjian itu dibatalkan. Afanti berpikir lama, lalu setuju, dengan syarat uangnya dikembalikan dan pohon itu menjadi tempat berteduh siapa saja, tanpa bayaran, selamanya.

Sejak itu para petani berteduh lagi. Keledai Afanti kabarnya lebih menyukai karpet, tetapi ia belajar menerima kenyataan.

💖 Pesan Moral

  • Hal yang dibuat untuk semua orang tidak bisa dimonopoli selamanya. Keteduhan pohon tua adalah milik bersama, apa pun kata perjanjiannya.
  • Keserakahan membuat orang lupa membaca isi perjanjian. Tuan Bay menghitung uangnya tanpa menghitung gerak matahari.
  • Dan kalau kamu menjual sesuatu yang bergerak, pastikan kamu tahu ke mana ia akan pergi.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari salah satu versi anekdot Afanti (Nasreddin Afandi versi Uyghur, Xinjiang) tentang jual beli keteduhan pohon, yang juga dikenal dari adaptasi film animasi Tiongkok.