Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Menanam Pohon untuk Cucu

2 menit baca

Pohon carob yang ditanam hari ini akan meneduhi generasi berikutnya. Gambar: Ariel Palmon אריאל פלמון · CC BY-SA 3.0 · sumber

Pada zaman dahulu di tanah Israel hiduplah seorang lelaki saleh bernama Honi. Orang-orang menghormatinya karena doa-doanya dan kebijaksanaannya. Suatu hari, ketika sedang berjalan di sebuah jalan desa, ia melihat seorang kakek tua yang sedang menggali tanah.

Honi berhenti dan memperhatikan. Kakek itu menggali lubang dengan susah payah, lalu dengan hati-hati menanam sebatang bibit kecil. Ia menimbun akarnya dengan tanah, menepuk-nepuknya, lalu menyiramnya dengan air dari kendi.

“Kakek, pohon apa yang sedang Kakek tanam?” tanya Honi.

“Pohon carob,” jawab kakek itu sambil tersenyum.

Honi terheran-heran. Ia tahu pohon carob tumbuh sangat lambat. “Berapa lama sampai pohon ini berbuah?”

“Sekitar tujuh puluh tahun,” jawab kakek itu tenang.

Honi memandang rambut putih dan tangan keriput kakek itu. “Maaf, Kek, tetapi apakah Kakek yakin akan hidup tujuh puluh tahun lagi untuk memakan buahnya?”

Kakek itu tertawa kecil dan menyeka keringat di dahinya. “Tentu tidak, anak muda. Tetapi ketika aku lahir ke dunia ini, aku menemukan pohon-pohon carob yang sudah berbuah lebat. Aku tidak menanamnya. Kakek dan nenek moyangkulah yang menanamnya untukku. Sekarang giliranku. Aku menanam pohon ini untuk anak-anak dan cucu-cucuku.”

Honi terdiam. Ia lalu duduk beristirahat di bawah sebuah pohon tak jauh dari situ untuk makan. Tiba-tiba rasa kantuk yang sangat berat datang. Menurut kisah yang dituturkan dalam Talmud, ia tertidur di balik bebatuan dan tidak terbangun selama tujuh puluh tahun.

Ketika akhirnya ia membuka mata, dunia di sekelilingnya telah berubah. Ia melihat seorang lelaki sedang memetik buah dari sebatang pohon carob yang besar dan rindang.

“Apakah kau yang menanam pohon ini?” tanya Honi.

“Bukan,” jawab lelaki itu. “Kakekku yang menanamnya, dulu sekali, ketika ia sudah tua.”

Honi tersenyum. Ia mengerti sekarang. Kakek tua itu tidak pernah menikmati buah pohon yang ia tanam, tetapi buahnya kini mengenyangkan cucu-cucunya. Itulah warisan yang sejati: bukan sesuatu yang kita nikmati sendiri, melainkan sesuatu yang kita tinggalkan untuk mereka yang datang sesudah kita.

Sebuah pepatah lama yang sejalan dengan kisah ini berbunyi: masyarakat menjadi besar ketika orang-orang tua menanam pohon yang keteduhannya tidak akan pernah mereka nikmati sendiri.

💖 Pesan Moral

  • Kita semua menikmati “pohon” yang ditanam generasi sebelum kita; kini giliran kita menanam untuk generasi berikutnya.
  • Kebaikan sejati tidak selalu menunggu hasil untuk diri sendiri.
  • Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang bermanfaat, berapa pun usia kita.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Honi HaMe’agel dalam Talmud Babilonia (Ta’anit 23a).