Ikkyu dan Jembatan Larangan
Kaligrafi karya Ikkyu Sojun sendiri, Museum Nasional Tokyo. Gambar: Daderot · CC0 · sumber
Ikkyu masih seorang biksu cilik di kuil Ankoku-ji, Kyoto, tetapi kecerdikannya sudah menjadi bahan pembicaraan. Kepala biara sering kerepotan. Para biksu senior lebih kerepotan lagi. Dan seorang saudagar kaya di kota mendengar cerita-cerita itu dengan senang hati, lalu memutuskan untuk mengujinya sendiri.
Ia mengirim undangan ke kuil. Ikkyu diminta datang makan siang di rumahnya. Bagi anak yang biasanya makan bubur tipis, kata “makan siang” di rumah saudagar kaya punya daya tarik luar biasa. Ikkyu berangkat sambil membayangkan isi meja.
Untuk sampai ke rumah saudagar itu, tamu harus menyeberangi jembatan kecil di depan gerbang. Hari itu ada sesuatu yang baru. Di ujung jembatan terpancang papan pengumuman dengan tulisan besar dan rapi:
“Kono hashi wataru bekarazu.”
Artinya: Dilarang menyeberangi jembatan ini.
Ikkyu berhenti dan membaca. Di balik pagar, saudagar dan para pelayannya mengintip sambil menahan tawa. Sungainya tidak terlalu dangkal, dan tidak ada jalan lain. Ini hari besar: bocah paling pintar di Kyoto akan pulang dengan perut kosong, atau melanggar larangan dan bisa ditegur.
Ikkyu membaca sekali lagi. Lalu ia mengangguk puas, membetulkan jubahnya, dan berjalan dengan tenang melewati jembatan, tepat di tengah-tengah.
Saudagar itu berlari keluar.
“Hei! Hei! Kamu tidak bisa membaca? Di situ tertulis dilarang menyeberang!”
Ikkyu membungkuk dengan sangat sopan.
“Saya membacanya, Tuan. Justru karena itu saya berhati-hati. Di papan itu tertulis ‘hashi’ dengan huruf kana, yang bisa berarti jembatan, bisa pula berarti tepi. Jadi saya tidak berjalan di tepi. Saya berjalan persis di tengah.”
Beberapa detik saudagar itu tidak berkata apa-apa. Pelayan-pelayannya mulai batuk-batuk menutupi tawa. Lalu tawa sang saudagar sendiri pecah paling keras.
“Aku kalah! Masuklah, masuklah. Makanan sudah menunggu.”
Ikkyu masuk dan makan dengan lahap, sambil menyimpan senyum kecil. Ia sudah tahu bahwa saudagar seperti itu pasti akan mengujinya lagi lain waktu. Tidak apa-apa, pikirnya. Makanannya enak.
Ikkyu Sojun adalah tokoh nyata, biksu Zen abad ke-15 yang terkenal nyentrik dan puisinya masih dibaca. Namun anekdot masa kecilnya ini lahir jauh setelah ia wafat, dari kumpulan cerita jenaka yang populer pada zaman Edo. Di Jepang, ungkapan “kono hashi wataru bekarazu” sampai sekarang dikenal hampir semua anak.
💖 Pesan Moral
- Baca sekali lagi sebelum menyerah. Sering jalan keluar sudah tersedia dalam kata-kata masalahnya sendiri.
- Orang yang kalah dengan tertawa tetap menang. Saudagar itu kehilangan taruhan dan mendapat kisah yang bagus.
- Pelajaran bagi pembuat peraturan: pilih kata dengan cermat, sebab selalu ada Ikkyu di luar sana.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari anekdot Ikkyu-banashi, kumpulan cerita jenaka Jepang zaman Edo tentang masa kecil biksu Ikkyu Sojun (1394–1481).