Gudang Inspirasi Hidup
Inspirasi

Ahli Ibadah dan Tukang Sepatu

3 menit baca

Tukang sepatu tua di Kairo, lukisan Rafael von Ambros, 1892. Gambar: Rafael von Ambros · Public domain · sumber

Abdullah bin Mubarak adalah ulama besar yang dihormati di seluruh dunia Islam pada abad kedelapan. Ia kaya, pandai, dan sering pergi berhaji. Suatu tahun, seperti dikisahkan Fariduddin Attar, ia berada di Mekah dan telah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji. Karena lelah, ia tertidur.

Dalam tidurnya ia melihat dua malaikat turun dari langit dan berbincang.

“Berapa orang yang datang tahun ini?”

“Enam ratus ribu.”

“Berapa yang hajinya diterima?”

“Tak seorang pun.”

Abdullah gemetar. Ia berseru dalam mimpinya: semua orang ini datang dari ujung-ujung bumi, menempuh gurun luas dan jurang dalam dengan susah payah, dan semuanya sia-sia?

Malaikat itu menjawab bahwa di Damaskus ada seorang tukang sepatu bernama Ali bin Muwaffaq. Ia tidak datang berhaji, tetapi hajinya diterima, dan seluruh dosanya telah diampuni.

Abdullah terbangun. Aku harus pergi ke Damaskus menemui orang itu, katanya.

Perjalanan dari Mekah ke Damaskus sangat panjang, tetapi ia menempuhnya. Di kota itu ia bertanya-tanya sampai menemukan rumah yang dicarinya. Ia memanggil dari luar, dan seorang lelaki keluar.

“Siapa namamu?”

“Ali bin Muwaffaq.”

“Apa pekerjaanmu?”

“Saya menambal sepatu.”

Abdullah menceritakan mimpinya. Lelaki itu lalu bertanya siapa nama tamunya. Begitu mendengar bahwa ia sedang berbicara dengan Abdullah bin Mubarak, ia berteriak dan jatuh pingsan. Setelah sadar, Abdullah memintanya menceritakan kisahnya.

Selama tiga puluh tahun, kata tukang sepatu itu, ia merindukan haji. Dari menambal sepatu, sedikit demi sedikit ia berhasil mengumpulkan tiga ratus lima puluh dirham. Tahun itu ia sudah berniat berangkat ke Mekah.

Suatu hari istrinya, yang sedang hamil, mencium bau masakan dari rumah tetangga. Ia meminta suaminya memintakan sedikit. Ali pergi mengetuk pintu tetangganya dan menjelaskan keadaannya.

Tetangga perempuannya menangis. Sudah tiga hari anak-anaknya tidak makan, katanya. Hari ini ia menemukan seekor keledai yang mati di jalan, memotong sedikit dagingnya, dan memasaknya untuk mereka. Makanan itu tidak halal bagi Ali.

Ali berdiri di depan pintu dengan hati yang terbakar. Tepat di sebelah rumahnya ada anak-anak yang kelaparan sampai harus makan bangkai, sedangkan ia menyimpan uang bertahun-tahun untuk pergi jauh ke Mekah. Ia pulang, mengambil seluruh tabungan tiga ratus lima puluh dirham itu, dan menyerahkannya kepada perempuan itu.

“Belanjakanlah ini untuk anak-anakmu,” katanya. “Inilah hajiku.”

Abdullah bin Mubarak mendengarkan sampai selesai. Malaikat itu benar dalam mimpinya, katanya.

💖 Pesan Moral

  • Ibadah tidak boleh membuat kita buta terhadap tetangga. Tukang sepatu itu melihat bahwa jalan menuju Tuhan juga melewati pintu sebelah.
  • Tabungan impian boleh dikorbankan ketika ada yang lebih mendesak. Keputusannya tidak diumumkan kepada siapa pun.
  • Nilai perbuatan tidak ditentukan oleh besarnya sorotan. Enam ratus ribu orang berkumpul di Mekah, tetapi yang disebut justru orang yang tinggal di rumah.

Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari kisah Abdullah bin Mubarak dan Ali bin Muwaffaq dalam Tadhkirat al-Awliya karya Fariduddin Attar.