Sarung Tangan yang Hangat
Sebelah sarung tangan rajut yang cukup hangat untuk menampung banyak hewan. Gambar: Liilia Moroz · CC0 · sumber
Pada suatu hari di musim dingin, seorang kakek berjalan ke hutan untuk mencari kayu bakar. Anjingnya berlari-lari di sampingnya. Salju tebal menutupi jalan, dan angin bertiup sangat dingin. Tanpa disadari, sebelah sarung tangan kulitnya yang hangat terjatuh di atas salju. Kakek itu terus berjalan tanpa menoleh.
Tak lama kemudian, seekor tikus kecil yang kedinginan berlari melintas. Ia melihat sarung tangan itu dan menyusup masuk. “Alangkah hangatnya! Di sinilah aku akan tinggal,” katanya.
Lalu datanglah seekor katak yang melompat-lompat. “Tok, tok! Siapa yang tinggal di dalam sarung tangan ini?”
“Aku, si Tikus Pencicit. Kau siapa?”
“Aku si Katak Pelompat. Bolehkah aku ikut masuk? Di luar dingin sekali.” “Masuklah!” Kini ada dua penghuni di dalam sarung tangan.
Kemudian datanglah seekor kelinci yang berlari kencang. “Siapa yang tinggal di dalam sarung tangan ini?” “Kami, si Tikus Pencicit dan si Katak Pelompat. Kau siapa?” “Aku si Kelinci Pelari. Bolehkah aku masuk juga?” Tikus dan katak bergeser sedikit. “Masuklah!” Sekarang mereka bertiga.
Tak lama datang seekor rubah. “Siapa di dalam? Bolehkah aku bergabung?” Mereka bergeser lagi, dan rubah pun masuk. Sarung tangan itu mulai menggembung. Lalu datanglah seekor serigala abu-abu. Ia juga kedinginan dan meminta masuk. Para penghuni berdesakan, saling merapat, dan akhirnya serigala pun bisa masuk. Jahitan sarung tangan itu mulai meregang.
Belum selesai, datanglah seekor babi hutan dengan napas mengepul. “Bolehkah aku masuk?” “Kami sudah berdesakan,” jawab mereka. “Tapi… baiklah, masuklah, kita akan saling menghangatkan.” Babi hutan menyelinap masuk dengan susah payah.
Terakhir, datanglah seekor beruang besar yang berjalan berat. “Bolehkah aku masuk juga? Aku hampir membeku.” Semua penghuni saling berpandangan. Sarung tangan itu sudah hampir meledak! Tetapi tidak ada satu pun yang tega membiarkan sesamanya kedinginan. “Masuklah, kami akan menyingkir sedikit lagi.” Entah bagaimana, beruang itu pun berhasil masuk. Kini ada tujuh hewan di dalam satu sarung tangan, berdesakan tetapi hangat.
Sementara itu, kakek menyadari sarung tangannya hilang. Ia berbalik dan menyusuri jalan yang tadi ia lewati. Anjingnya berlari mendahului. Ketika melihat sarung tangan yang bergerak-gerak dan menggembung di atas salju, anjing itu menggonggong keras, “Guk! Guk! Guk!”
Hewan-hewan di dalam sarung tangan terkejut. Mereka berhamburan keluar dan lari ke segala arah ke dalam hutan. Ketika kakek tiba, ia hanya menemukan sarung tangannya yang sudah melar, lalu memungutnya dan pulang, tanpa pernah tahu bahwa malam itu sarung tangannya telah menjadi rumah yang hangat bagi tujuh makhluk yang kedinginan.
💖 Pesan Moral
- Selalu ada ruang bagi yang membutuhkan bila hati kita lapang.
- Berbagi tempat dan kehangatan membuat semua bisa bertahan di masa sulit.
- Yang kecil dan yang besar bisa hidup bersama jika saling menerima.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari dongeng rakyat Ukraina “Sarung Tangan” (Rukavychka); penulis aslinya tidak diketahui.