Perumpamaan Panah Beracun
Sang Buddha mengajar para muridnya; relief Gandhara abad ke-3 M. Gambar: SpeakingArch · CC BY-SA 4.0 · sumber
Di antara murid-murid Sang Buddha, ada seorang bhikkhu bernama Malunkyaputta. Ia cerdas dan gemar berpikir. Suatu sore, ketika sedang bermeditasi sendirian, pikirannya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan besar.
“Apakah alam semesta ini kekal atau tidak? Apakah ia terbatas atau tak terbatas? Apakah jiwa sama dengan tubuh? Apa yang terjadi pada seorang yang telah tercerahkan setelah ia meninggal?”
Sang Buddha tidak pernah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Malunkyaputta merasa tidak puas. Ia pun mendatangi gurunya dan berkata dengan tegas, “Guru, jika Guru tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku, aku akan berhenti menjadi bhikkhu dan kembali ke kehidupan biasa.”
Sang Buddha memandangnya dengan tenang. “Malunkyaputta, apakah dulu aku pernah berjanji akan menjawab semua pertanyaan itu jika engkau mengikutiku?”
“Tidak, Guru.”
“Kalau begitu, dengarlah sebuah perumpamaan.”
“Bayangkan seorang lelaki terkena panah yang ujungnya dilumuri racun pekat. Sahabat dan keluarganya segera memanggil seorang tabib. Tetapi ketika tabib itu hendak mencabut panahnya, lelaki itu berkata: ‘Tunggu! Aku tidak mau panah ini dicabut sebelum aku tahu siapa yang memanahku. Apakah ia seorang bangsawan, pedagang, atau petani? Siapa namanya, dari keluarga mana? Apakah ia tinggi, pendek, atau sedang? Kulitnya gelap atau terang? Dari desa atau kota mana asalnya?'”
“‘Aku juga ingin tahu busur apa yang dipakainya, dari bahan apa talinya, dari bulu burung apa ekor panahnya, dan bagaimana bentuk mata panahnya. Sebelum semua itu terjawab, jangan sentuh panah ini!'”
Sang Buddha berhenti sejenak. “Malunkyaputta, apa yang akan terjadi pada lelaki itu?”
Malunkyaputta menunduk. “Ia akan mati sebelum semua pertanyaannya terjawab, Guru.”
“Begitulah,” kata Sang Buddha. “Aku tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan itu bukan karena tidak peduli, melainkan karena jawabannya tidak membantu mencabut panah. Yang kuajarkan adalah hal yang paling mendesak: penderitaan, sebab penderitaan, berakhirnya penderitaan, dan jalan menuju ke sana. Itulah yang menyembuhkan.”
Malunkyaputta terdiam lama. Ia menyadari bahwa selama ini ia sibuk menanyakan asal-usul panah, padahal racunnya terus menjalar di dalam dirinya sendiri.
Perumpamaan ini tidak melarang kita bertanya atau berpikir mendalam. Ia hanya mengingatkan tentang urutan: tangani dulu yang menyelamatkan, baru kemudian puaskan rasa ingin tahu.
💖 Pesan Moral
- Dahulukan yang mendesak dan menyembuhkan, sebelum hal-hal yang sekadar memuaskan rasa ingin tahu.
- Terlalu lama menganalisis bisa membuat kita tidak pernah bertindak, padahal waktu terus berjalan.
- Tidak semua pertanyaan harus terjawab sebelum kita mulai memperbaiki hidup.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari Cula-Malunkyovada Sutta (Majjhima Nikaya 63) dalam Kanon Pali Buddhis.