Singa dan Tikus
Sang raja hutan dan si tikus kecil yang kelak menyelamatkannya. Ilustrasi Paul Bransom (1921). Gambar: Paul Bransom · Public domain · sumber
Pada suatu siang yang terik, seekor singa besar sedang tidur di bawah pohon di tepi hutan. Perutnya kenyang, dan dengkurannya terdengar seperti guntur kecil.
Seekor tikus kecil yang sedang mencari makan tidak memperhatikan ke mana ia berlari. Tanpa sengaja, ia melompati kaki singa, lalu tersandung dan jatuh tepat di atas hidungnya.
Singa terbangun dengan marah. Dalam sekejap, cakarnya yang besar menangkap tikus itu. Ia membuka mulutnya lebar-lebar, siap menelan makhluk kecil yang berani mengganggu tidurnya.
“Ampun, Raja Hutan! Ampuni aku!” cicit si tikus gemetar. “Aku tidak sengaja. Kalau Paduka melepaskanku, suatu hari nanti aku pasti akan membalas kebaikan Paduka.”
Singa tertegun, lalu tertawa keras sampai daun-daun bergetar. “Kamu? Membalas kebaikanku? Makhluk sekecil kamu, apa yang bisa kamu lakukan untuk raja hutan sepertiku?”
Namun entah karena geli, entah karena hatinya sedang lapang, singa itu membuka cakarnya. “Pergilah, Tikus Kecil. Hari ini aku sedang berbaik hati.”
Tikus itu mengucapkan terima kasih berkali-kali, lalu berlari secepat mungkin ke dalam semak-semak.
Beberapa hari kemudian, para pemburu datang ke hutan itu. Mereka memasang jaring tali yang kuat di jalan setapak yang sering dilalui singa. Ketika singa lewat, jaring itu jatuh dan membelit tubuhnya.
Singa meronta sekuat tenaga. Ia mencakar, menggigit, dan berguling, tetapi semakin keras ia berusaha, semakin erat tali-tali itu mengikatnya. Akhirnya, kelelahan dan ketakutan, ia mengaum panjang. Aumannya menggema ke seluruh hutan.
Tikus kecil mendengar auman itu dan langsung mengenali suaranya. “Itu singa yang dulu menyelamatkanku!” Tanpa ragu ia berlari menuju arah suara.
Ia menemukan singa terjerat tak berdaya. “Tenanglah, Paduka,” katanya. “Aku akan menolongmu.”
Dengan gigi-giginya yang kecil tetapi tajam, tikus itu mulai menggerogoti tali jaring. Satu tali putus, lalu satu lagi, dan satu lagi. Ia bekerja tanpa henti, sampai akhirnya terbuka lubang yang cukup besar. Singa pun meloloskan diri, tepat sebelum para pemburu kembali.
Singa menatap tikus kecil itu dengan mata berkaca-kaca. “Dulu aku menertawakanmu,” katanya pelan. “Aku tidak percaya makhluk sekecil kamu bisa menolongku. Hari ini kamu menyelamatkan nyawaku. Terima kasih, Sahabatku.”
Sejak hari itu, singa dan tikus menjadi sahabat. Dan singa tidak pernah lagi memandang rendah makhluk mana pun hanya karena ukurannya.
💖 Pesan Moral
- Jangan meremehkan siapa pun. Orang yang tampak kecil dan lemah bisa menjadi penolong terbesar kita.
- Kebaikan tidak pernah sia-sia. Belas kasih yang kita berikan hari ini bisa kembali di saat yang tak terduga.
- Tepatilah janji, sekecil apa pun kemampuan kita untuk menepatinya.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari fabel Aesop (Yunani kuno), “Singa dan Tikus”, yang juga digubah oleh Jean de La Fontaine dalam “Le Lion et le Rat”.