Wortel, Telur, dan Biji Kopi
Air yang mendidih: kesulitan yang sama untuk semuanya. Gambar: Ildar Sagdejev (Specious) · CC BY-SA 4.0 · sumber
Suatu sore, Rina pulang ke rumah ibunya dengan mata sembap. Ia menjatuhkan diri di kursi dapur dan mulai menumpahkan semua bebannya: pekerjaan yang menumpuk, atasan yang tak pernah puas, cicilan yang belum lunas, dan rasa lelah yang seolah tak ada ujungnya.
“Rasanya baru selesai satu masalah, sudah datang masalah lain, Bu. Aku capek. Aku ingin menyerah saja.”
Ibunya tidak langsung menjawab. Ia berdiri, mengambil tiga panci kecil, mengisinya dengan air, lalu menaruhnya di atas kompor. Ke dalam panci pertama ia memasukkan beberapa batang wortel. Ke dalam panci kedua, beberapa butir telur. Ke dalam panci ketiga, segenggam biji kopi.

Rina memperhatikan dengan heran, tetapi ibunya hanya diam sambil menunggu air mendidih.
Dua puluh menit kemudian, sang ibu mematikan kompor. Ia mengangkat wortel dan menaruhnya di piring, mengangkat telur ke mangkuk, lalu menuang kopi ke dalam cangkir.
“Nak, apa yang kamu lihat?”
“Wortel, telur, dan kopi,” jawab Rina.
Ibunya meminta Rina meraba wortel itu. Wortel yang tadinya keras kini lunak dan mudah hancur. Lalu ia meminta Rina memecahkan sebutir telur. Kulitnya retak, dan isinya yang tadinya cair kini telah mengeras. Terakhir, ia meminta Rina menyeruput kopinya. Rina tersenyum mencium aromanya yang harum.

“Apa maksud semua ini, Bu?”
Ibunya duduk di sampingnya. “Ketiganya menghadapi kesulitan yang sama: air yang mendidih. Tetapi reaksinya berbeda. Wortel masuk dalam keadaan kuat dan keras, tetapi keluar menjadi lemah dan lembek. Telur tadinya rapuh, isinya lembut, tetapi setelah direbus hatinya justru menjadi keras. Sedangkan biji kopi lain lagi. Bukan biji kopi yang diubah oleh air panas. Biji kopilah yang mengubah air itu menjadi sesuatu yang harum dan nikmat.”
Ia menggenggam tangan anaknya.
“Kesulitan akan selalu datang, Nak. Pertanyaannya: ketika air di sekitarmu mendidih, kamu mau menjadi yang mana?”
💖 Pesan Moral
- Kita tidak selalu bisa memilih masalah yang datang, tetapi kita selalu bisa memilih cara menanggapinya.
- Jangan seperti wortel yang kehilangan kekuatan saat ditekan, dan jangan seperti telur yang hatinya mengeras karena luka.
- Jadilah seperti biji kopi: justru di saat paling panas, kita bisa membuat keadaan di sekitar kita menjadi lebih baik.
Diceritakan ulang oleh Gudang Inspirasi dari perumpamaan populer yang penulis aslinya tidak diketahui.