Ki Hajar Dewantara Melepas Gelar
Patung Ki Hadjar Dewantara di depan sekolah Tamansiswa, dengan semboyan tut wuri handayani pada alasnya. Gambar: Rachmat04 · CC BY-SA 4.0 · sumber
Tahun 1913 pemerintah Hindia Belanda bersiap merayakan seratus tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis, dan penduduk bumiputra pun dimintai sumbangan untuk pesta itu. Di tanah jajahan, rakyat yang tidak merdeka diminta membiayai perayaan kemerdekaan penjajahnya.
Seorang wartawan muda bernama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat menjawabnya dengan tulisan. Ia lahir pada 2 Mei 1889 dari lingkungan bangsawan Yogyakarta, jadi sebenarnya ia bisa hidup nyaman. Tulisannya yang paling terkenal, Als ik eens Nederlander was (“Seandainya Aku Seorang Belanda”), terbit di koran De Expres pada 13 Juli 1913. Dengan menempatkan diri sebagai orang Belanda, ia menyatakan tidak akan merayakan kemerdekaan di negeri yang rakyatnya dirampas haknya, apalagi sambil merogoh kantong mereka.
Pemerintah kolonial tidak menganggapnya lucu. Soewardi ditangkap dan akan dibuang ke Pulau Bangka. Dua rekannya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes, dan akhirnya ketiganya diasingkan ke Belanda pada 1913. Sejarah Indonesia mengingat mereka sebagai Tiga Serangkai.
Pengasingan itu ternyata berguna. Di Belanda Soewardi mendalami dunia pendidikan dan berkenalan dengan pemikiran Froebel, Montessori, dan gerakan pendidikan Santiniketan keluarga Tagore di India. Pada September 1919 ia pulang ke Jawa dan mengajar di sekolah yang dibina saudaranya. Saat itu pendidikan yang layak hanya terbuka bagi orang Belanda dan segelintir keluarga bangsawan.
Pada 3 Juli 1922 ia mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa di Yogyakarta, sekolah yang ditujukan bagi rakyat bumiputra. Beberapa tahun kemudian datang langkah yang memberi kisah ini judulnya. Ketika genap berusia 40 tahun menurut hitungan Jawa, kira-kira awal 1928, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Menurut kepercayaan Jawa, pergantian nama pada usia itu dapat menolak kemalangan. Namun ada yang lebih penting: ia sekaligus menanggalkan gelar Raden Mas di depan namanya. Sumber-sumber menjelaskan alasannya, yaitu agar ia dapat dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa, tanpa sekat derajat yang kaku dalam masyarakat Jawa.
Gelar itu warisan yang tidak ia minta, dan di masyarakat Jawa saat itu gelar menentukan cara orang diperlakukan. Ia melepasnya dan tetap dihormati, malah dengan sapaan yang lebih akrab: Ki Hadjar.
Semboyan pendidikannya masih dipakai kementerian yang mengurus pendidikan Indonesia sampai hari ini, tut wuri handayani, dari belakang memberi dorongan. Setelah kemerdekaan, ia menjadi menteri yang mengurusi pendidikan dalam kabinet pertama Indonesia. Ia wafat pada 26 April 1959. Pada tahun yang sama ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, dan tanggal lahirnya, 2 Mei, kini diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
💖 Pesan Moral
- Kritik yang cerdas bisa lebih tajam daripada teriakan. Satu tulisan satir membuat sebuah pemerintah kolonial merasa perlu mengusir penulisnya.
- Masa sulit bisa dijadikan masa belajar. Pengasingan yang dimaksudkan sebagai hukuman ia pakai untuk menyiapkan karya hidupnya.
- Kehormatan sejati tidak tinggal di gelar. Orang mengingat Ki Hadjar karena apa yang ia bangun untuk orang lain.
- Guru yang baik memberi ruang. Tut wuri handayani mengajak pendidik mendorong dari belakang, tanpa merebut langkah muridnya.
Disusun oleh Gudang Inspirasi dari catatan sejarah tentang Ki Hadjar Dewantara. Tanggal pergantian namanya berbeda di antara sumber: umumnya disebut 3 Februari 1928, ada yang 23 Februari 1928, dan ada yang mengaitkannya dengan 1922.